Jefferson sadar bahwa dalam kesepakatan antara Napoleon dengan Spanyol ada klausul bahwa Louisiana tidak boleh dijual atau diserahkan kepada AS. Ia kemudian memutuskan untuk mencoba membeli New Orleans dan Florida dengan cara apa pun. Jefferson mengutus James Monroe untuk membantu Livingston di Paris.
Di waktu yang sama, Napoleon memiliki rencana sendiri. Pria bertubuh pendek itu berencana menjual kembali Louisiana tanpa sepengetahuan Spanyol, bahkan tanpa memberi tahu Talleyrand. Napoleon beralasan, pihaknya kekurangan dana untuk berperang melawan Inggris.
Demi melancarkan pengambilan keputusan, Napoleon melihat bahwa Inggris memiliki armada yang cukup besar tengah bersandar di Teluk Meksiko untuk menaklukkan Louisiana kapan pun perang dimulai. Bagi Napoleon, Louisiana sudah hampir akan hilang.
James Monroe tiba di Paris dan pada saat itu kedua belah pihak sudah saling tahu akan rencana masing-masing. Menteri Keuangan Prancis, Barbe-Marbois, dan Livingston saling bertukar tawaran dan akhirnya muncul penawaran terhadap Louisiana. Tak mau buang waktu, Livingston langsung mengirim surat ke Jefferson.
Tanpa bertanya sama sekali, AS menerima tawaran penjualan tersebut. Ternyata dalam klausul disebutkan bahwa tawaran itu mencakup tidak hanya New Orleans dan Florida, tetapi juga Louisiana. Namun, harga jualnya cukup tinggi yang membuat AS sempat ragu. Waktu pun terus bergulir.
Livingston dan Monroe sadar bahwa butuh 45 hari agar surat mereka bisa sampai ke tangan Presiden Thomas Jefferson. Keputusan harus diambil dengan cepat. Setelah beberapa kali rapat, mereka berhasil menurunkan harga hingga USD15 juta.
Sadar bahwa itu merupakan tawaran terbaik dan tidak bisa lama menunggu, keduanya menerima kesepakatan tersebut tanpa persetujuan Jefferson. Livingston dan Monroe yakin warga AS serta Presiden Thomas Jefferson akan setuju dengan tindakan mereka.
Pada 2 Mei 1803, kesepakatan tersebut terjalin. Transaksi jual beli terjadi secara resmi pada 22 Mei 1803, empat hari setelah perang antara Inggris dan Prancis dimulai.
Ketika berita itu sampai ke daratan Amerika, warga bersorak-sorai. Namun, isu terbesar (bahkan bagi Jefferson sendiri) adalah tindakan Livingston dan Monroe berlawanan dengan konstitusi. Senat pun pada akhirnya sepakat dan mendukung pembelian tanah tersebut.
Karena AS tidak memiliki dana cukup untuk membeli tanah itu sendirian, kemudian dibentuk surat obligasi dan berharap akan ada yang membelinya. Obligasi tanah itu diambil oleh investor Inggris, Bank Baring, dan di situ lah ironi terjadi. Inggris membiayai Napoleon untuk perang terhadap Inggris.
(Wikanto Arungbudoyo)