BIBIR biru, kulit menghitam, keluar darah dari hidung dan mulut, serta batuk kencang yang membuat otot mereka robek. Sakit kepala melumpuhkan dan nyeri tubuh yang terasa menyiksa. Inilah gejala penyakit yang pertama kali tercatat di Haskell County, Kansas, seratus tahun yang lalu. Dari Kansas penyakit ini menyebar dengan cepat, tidak hanya di seluruh Amerika Serikat tapi di seluruh dunia. Akhirnya gejala tersebut dikenal sebagai flu Spanyol. Tingkat kematian benar-benar mengerikan pada saat itu.
Selama pandemik yang berlangsung selama dua tahun, antara 50 juta sampai 100 juta orang di seluruh dunia meninggal atau sekira tiga persen dari populasi dunia. Flu Spanyol membunuh lebih banyak orang daripada penyakit pandemik sebelumnya, termasuk wabah justanius pada abad keenam, black death pada abad pertengahan, dan epidemi AIDS atau Ebola.
Perang Dunia I, yang berakhir sama seperti flu, membunuh hampir sepertiga orang dengan peluru dan bom saat influenza menyerang dan menyebabkan flu dan batuk.
Palang Merah Amerika Serikat menyiapkan pembalut bedah untuk digunakan pada pasien flu selama musim dingin 1918-1919. Virus ini pertama kali muncul di Oakland pada awal Oktober dan dalam waktu dua minggu ribuan orang menderita penyakit tersebut. Rumah sakit kota kewalahan dengan tingginya jumlah pasien, sehingga wali kota memerintahkan auditorium sipil yang baru dibuka diubah menjadi bangsal. Semua dengan cepat dipenuhi oleh orang-orang Oakland yang sakit parah.
Di Oakland, tindakan cepat oleh pemerintah kota untuk menutup sekolah dan gereja untuk tindakan pembersihan terhadap masyarakat. Pada Februari 1919, wabah flu tersebut terkendali. Namun demikian, 1.300 warga Oakland meninggal dari 675.000 kasus kematian di Amerika Serikat secara keseluruhan. Jumlah tersebut melebihi korban tewas Perang Saudara. Akibat wabah flu tersebut bersamaan dengan Perang Dunia I, harapan hidup di Amerika Serikat menurun selama 12 tahun.
(pai)
(Rifa Nadia Nurfuadah)