Pasangan yang diusung Partai Demokrat dan Golkar itu memiliki 5 program untuk memajukan Jabar. Kelima program itu adalah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, mewujudkan sumber daya manusia berkualitas, produktif, unggul, dan berkarakter. Hingga yang tak kalah penting adalah mewujudkan tata kelola kehidupan sosial masyarakat yang berbudaya, demokratis, dan mandiri.
Selain visi-misi, dalam debat itu juga diadakan tanya jawab terhadap sesama paslon. Dalam tanya jawab ini, ada dua isu yang dapat meningkatkan tensi debat Pilgub Jabar.
Kedua tanya jawab itu melibatkan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Pasangan Sudrajat, Syaikhu sempat menanyakan banyak pohon di Purwakarta yang ditutupi sarung. Dedi Mulyadi yang merupakan mantan Bupati Purwakarta menyatakan bahwa itu merupakan bagian dari ilmu lingkungan untuk melindungi pohon.
"Ilmu lingkungan mengajarkan proses perlindungan, proses memuliakan. Itu adalah ajaran dari sistem kebudayaan kita,” ucap Dedi.
Selain debat soal pohon diberikan sarung, debat soal Meikarta juga sempat membuat tensi debat meningkat.
Anton Charliyan mempertanyakan perizinan proyek Meikarta itu kepada Pemprov Jabar, padahal sebelumnya izin proyek itu ditolak. "Ini prosesnya bagaimana sehingga bisa transparan? tanya Anton yang berpasangan dengan TB Hasanuddin.
Deddy Mizwar yang sebelumnya menjabat Wakil Gubernur Jabar pun menjawab pertanyaan mantan Kapolda Jabar tersebut. Ia mengatakan, Pemprov Jabar hanya memberkan izin untuk penggunaan lahan yang seluas 84,6 hektare sebagai zona pemukiman.Sementara izin proyek Meikarta seluas 500-2.000 hektare ditolak oleh pihaknya. "Tapi perizinan 500 hektare sama sekali tidak bisa keluar, 2.200 hektare sama sekali tidak bisa keluar," katanya.
Sementara itu, dalam debat itu, Ridwan Kamil menegaskan, dirinya dan Uu siap memimpin Jabar untuk menghadapi perubahan. Ia pun menilai Jabar membutuhkan sosok pemimpin baru.
"Mengapa memilih pasangan Rindu? Pasangan Rindu adalah pasangan yang tepat untuk lima tahun ke depan," kata Ridwan Kamil.
Lain pula dengan pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan. Pasangan yang memiliki latar belakang TNI dan Polri tersebut dalam debat pertama banyak menyinggung masalah keamanan. Terlebih keduanya pernah berdinas di Jabar sehingga sangat memahami kondisi di wilayah tersebut.
''Kalau Jabar aman, maka ibu kota aman. Kalau ibu kota aman, maka Indonesia akan aman. Nah, yang paling bisa menjaga keamanan hanya kami berdua, Hasanah,'' ujar Anton.
Menanggapi debat tersebut, pengamat politik dan pemerintahan Asep Warlan Yusuf, menyatakan ada dominasi dari calon gubernur terhadap wakilnya. Selain itu, pemaparan dalam debat tersebut, menurut Asep masih sangat normatif.