Presiden Korsel Minta Maaf atas Tragedi Pembantaian Jeju

Wikanto Arungbudoyo, Jurnalis
Selasa 03 April 2018 14:09 WIB
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (Foto: Kim Hong-ji/Reuters)
Share :

JEJU – Presiden Korea Selatan (Korsel), Moon Jae-in, meminta maaf atas nama negara atas tragedi pembantaian di Pulau Jeju pada 3 April 1948. Pria berusia 65 tahun itu menjadi presiden pertama yang menghadiri peringatan tragedi Jeju dalam satu dekade terakhir.

Kepada sekira 15 ribu hadirin, termasuk sejumlah penyintas, Moon berjanji untuk mengungkap fakta di balik tragedi. Ia juga menjanjikan pengembalian kehormatan para korban, memberi kompensasi, serta mengembalikan jenazah para korban yang hilang.

“Saya, sebagai presiden, meminta maaf sekali lagi atas semua rasa sakit yang dialami akibat kekerasan negara dan upaya (untuk menyembuhkan mereka), dan juga sangat menghargai mereka,” ujar Presiden Moon Jae-in, melansir dari Yonhap, Selasa (3/4/2018).

“Hari ini, saya berjanji untuk melangkah maju menuju resolusi lengkap untuk insiden 3 April tanpa ragu. Tidak akan ada penangguhan atau kemunduran dalam upaya kami memverifikasi kebenaran di balik insiden itu dan mengembalikan kehormatan para korban,” imbuh Ketua Partai Demokratik itu.

Ia menekankan, pemerintah atas kerjasama dengan legislator terkait, akan berupaya sebaik-baiknya untuk mendukung para korban serta keluarganya lewat sejumlah tindakan. Salah satu yang diupayakan adalah pendirian pusat perawatan trauma nasional.

Pembantaian Jeju merujuk pada bentrokan antara pasukan pemerintah dengan warga sipil pada 1948-1954 sebagai dampak dari perbedaan ideologi di Korea Selatan usai kemerdekaan dari Jepang. Menurut data pemerintah Korea Selatan pada 2003, jumlah korban tewas di pihak warga sipil mencapai 25-30 ribu orang, sekira 10% total populasi pulau tersebut pada masa itu.

Pemerintah Korea Selatan di masa lalu menutupi fakta di balik insiden dan melarang para penyintas untuk berbicara dengan alasan keamanan serta perdamaian. Kalangan nasionalis juga mendukung langkah pemerintah sebagai bagian dari kampanye memberantas simpatisan komunis.

Mantan Presiden Roh Moo-hyun menjadi kepala negara pertama yang menghadiri acara peringatan pada 2006. Sementara itu, Moon Jae-in dalam kampanyenya berjanji untuk menangani luka para korban kekejaman negara di masa lalu. Pengungkapan fakta atas tragedi pembantaian di Jeju hanya satu dari 100 janji kampanye Moon Jae-in.

(Wikanto Arungbudoyo)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya