BALIKPAPAN - Komisi III DPRD Balikpapan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) terkait pencemaran teluk akibat pipa minyak mentah yang patah pada 31 Maret lalu. RDP tersebut menghadirkan Pertamina selaku operator, Chevron Indonesia, dinas terkait dan stakeholder lainnya seperti Pelindo dan KSOP.
Ketua Komisi III DPRD Balikpapan, Nazaruddin mengatakan, selain pengakuan Pertamina juga dilakukan inventarisasi kerugian atas dampak dari tumpahan minyak mentah di teluk Balikpapan.
"Pertamina telah menyanggupi semua, kalau soal pidana merupakan domain kepolisian," kata Nazaruddin (5/4/2018).
Komisi III juga akan membentuk panitia khusus (pansus) untuk permasalahan dan dampak dari pencemaran minyak mentah. "Kita Pansus-kan, hampir semua fraksi setuju," ungkapnya.
(Baca Juga: Darurat Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan, 1.000 Personel Dikerahkan Bersihkan Laut)
Mekanisme pembentukan Pansus yakni 50 persen plus 1 dari seluruh anggota dewan. Meski semua anggota Komisi III menyepakati pembentukan Pansus tersebut.
"Semua ketua fraksi ada di Komisi III. RDP tadi yang tidak ada Johny Ng yang merupakan ketua fraksi Golkar, nanti teman-teman mencoba komunikasi ke beliau," ujarnya.
Pansus itu, lanjut Nazaruddin, dibentuk agar ke depan tidak lagi terjadi peristiwa dari Pertamina yang mencemarkan lingkungan hidup termasuk standar keamanan dan keselamatan operasional.
"Mestinya kan ada panel room untuk mengawasi agar ada peringatan saat terjadi kerusakan. Saat ini alatnya justru konvensional sekali," tekannya.
Dalam kejadian ini, masyarakat terdampak dialami mereka yang tinggal di pesisir atau kampung atas air. Mereka bahkan mengkhawatirkan rumah mereka takut terbakar jika tumpahan minyak yang menempel di tiang kayu rumah mereka meresap lalu terbakar jika ada aktivitas.
(Baca Juga: Dari Citra Satelit, Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan Meluas hingga 7.000 Hektare)
Lurah Baru Ulu Muhammad Rizal mengakui ada 13 RT yang terdampak akibat minyak keluar dari Pertamina. “Banyak warga khawatir sisa minyak yang nempel di tiang kayu rumah kalau kering dan menyerap bahaya takut kebakaran. Mereka khawatir itu,” katanya.
Paling banyak terdampak ada di kelurahan Baru Tengah sebanyak 25 Rt.” mereka kebanyakan nelayan dan pekerja di speed,. Masing RT ada yang berkumandang 100 KK ada 75 KK," tambah Rizal. Di Kecamatan Balikpapan Barat terdapat 5 kelurahan yang terdampak yakni Kelurahan Baru Ulu, Baru Tengah, Margasari, Margomulyo dan Kariangau.
(Khafid Mardiyansyah)