(Baca Juga: Apresiasi Prabowo Nyapres, Airlangga Tegaskan Golkar Tetap Dukung Jokowi 2 Periode)
Ia mencontoh Pilpres di Amerika Serikat antara Hillary Clinton dan Donald Trump yang menggunakan politik identitas. Keduanya saling menyerang dengan politik identitas, keduanya hanya untuk menunjukkan identitas ideologi politik.
"Di Pilpres AS kalau kita lihat ketika Hillary dan Trump itu bertarung, itu kan juga jelas ada politik identitas. Tapi, politik identitasnya itu juga terbatas pada hal-hal yang tidak kemudian mengancam persatuan dan kesatuan bangsa AS, kecuali sekadar menunjukkan identitas ideologi politiknya masing-masing," tutupnya.
(Baca Juga: PAN Masih Pede Usung Zulkifli Hasan Jadi Capres 2019)
(Erha Aprili Ramadhoni)