MOSKOW – Rusia menuduh koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) menyerang Suriah di saat yang keliru. Menurut Moskow, Suriah saat ini justru memiliki kesempatan yang baik untuk perdamaian.
“Pertama ‘Arab Spring’ menguji keteguhan masyarakat Suriah, kemudian ISIS, lalu sekarang rudal pintar Amerika Serikat. Ibu Kota dari sebuah pemerintahan berdaulat, mencoba selama bertahun-tahun untuk bertahan di bawah serangan teroris, kini diserang,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, melansir dari Reuters, Sabtu (14/4/2018).
“Anda harus menjadi sedikit abnormal untuk menyerang Ibu Kota Suriah di saat mereka memiliki kesempatan akan masa depan yang damai,” imbuh Zakharova.
BACA JUGA: Trump Umumkan Serangan Militer Tiga Negara ke Suriah
Di Washington, Duta Besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov, mengingatkan serangan militer Negeri Paman Sam akan mendapatkan konsekuensi. Menurutnya, serangan tersebut justru mengejek Presiden Rusia, Vladimir Putin.
“Skenario yang sebelumnya sudah dirancang kini dilakukan. Sekali lagi, kami diancam. Kami mengingatkan tindakan semacam itu tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi,” cuit Anatoly Antonov lewat akun Twitter.
“Menghina Presiden Rusia sangat tidak bisa diterima dan dibiarkan begitu saja. AS, pemilik senjata kimia terbesar di dunia, tidak punya hak moral untuk menyalahkan negara lain,” imbuhnya.