TASIKMALAYA - Produk kebudayaan, merupakan salah satu identitas sebuah wilayah. Hampir seluruh daerah di Indonesia, memiliki ciri khas kebudayaan tersendiri. Seperti halnya di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Mungkin tak banyak yang tahu jika di kabupaten tersebut, ada sejumlah desa yang masih memegang teguh adat dan kebudayaan warisan nenek moyangnya. Sebut saja salah satunya, Desa Kersamaju, Kecamatan Cigalontang.
Di desa tersebut, ada sebuah kesenian yang menjadi ciri khas masyarakat di sana. kesenian yang terdiri dari tabuhan rebana, terebang (rebana besar), bonang, kendang dan gong itu merupakan hasil akulturasi budaya.
Produk kesenian ini, merupakan perpaduan dari dua kebudayaan. Yakni, Arab dan Sunda. Uniknya, metika dua kebudayaan ini bersinergi ternyata menciptakan alunan musik ritmik yang penuh semangat.
Alunan musik dari produk kesenian ini, ternyata tak sembarangan ditampilkan. Karena, biasanya kesenian ini hanya ditampilkan saat menyambut 'Gegeden' yang dianggap sebagai tokoh penting bagi masyarakat sekitar.
Seperti halnya saat Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyambangi perkampungan itu pada Rabu (9/5/2018). Masyarakat di desa itu,terlihat antusias melakukan penyambutan untuk mantan Bupati Purwakarta dua periode ini. Mereka pun, memberikan suguhan kesenian khas tersebut saat Dedi tiba di kampung itu untuk berkampanye.
Abah Maman (62), tokoh masyarakat di desa tersebut mengaku, pihaknya sengaja menampilkan kesenian khas desanya ini untuk penyambutan Kang Dedi (sapaan Cawagub) yang datang ke desanya. Menurut dia, Dedi Mulyadi merupakan sosok yang sangat dibanggakan oleh masyarakat di desa tersebut.
"Kesenian ini menunjukan spirit, antusiasme dan kebanggaan masyarakat kami, karena kedatangan Pak Dedi sangat diharapkan," ujar Abah Maman dalam rilis yang diterima Okezone.
Menurut dia, Kang Dedi berhasil membangun Purwakarta dengan menjaga nilai tradisional dan kebudayaannya. Ikhtiar Dedi Mulyadi ini masyarakat di sana terharu. Karena, ternyata masih ada pemimpin yang memperhatikan nilai-nilai kebudayaan.
"Kami menginginkan, nilai dalam kearifan lokal ini juga bisa diakomodir dalam pembangunan di Jawa Barat," katanya.
Sementara itu, tak hanya suguhan kesenian khas, dalam penyambutan Dedi pun masyarakat di sana ramai-ramai memasak nasi tumpeng dan penganan khas Priangan lainnya dan kemudian bersantap bersama. Hal ini jelas menunjukan, spirit goyong royong di desa tersebut masih sangat kental seperti kultur pedesaan pada umumnya.