Myers sepakat bahwa senjata nuklir Kim adalah untuk reunifikasi, tetapi tidak harus dengan menggunakan kekerasan.
"Korea Utara memerlukan kemampuan untuk menyerang Amerika Serikat dengan menggunakan senjata nuklir, untuk menekan kedua musuh agar menandatangani kesepakatan damai. Ini adalah satu-satunya hal besar yang diinginkan.
"Kesepakatan dengan Washington akan mensyaratkan penarikan pasukan AS dari Semenanjung Korea. Langkah selanjutnya, seperti yang sering dijelaskan Pyongyang, adalah sejenis konfederasi Utara-Selatan yang telah diusung sejak tahun 1960. Kita akan sangat naif jika tidak mengetahui apa yang akan terjadi."
Pemikiran bahwa Korea Utara yang miskin dan terbelakang akan melakukan penggabungan dengan Korea Selatan yang modern, kaya dan lebih maju militernya sepertinya tidak masuk akal, dan kemungkinan memang seperti itu adanya.
Tetapi Bradley K Martin mengatakan, betapa pun itu tidak mungkinnya, hal ini tetaplah tujuan Pyongyang.
"Saya selalu meyakini penggabungan kembali adalah tujuan utama mereka," katanya. "Banyak orang mengatakan mereka telah meninggalkannya sejak lama, mereka sadar akan ketidakmampuannya. Mereka menganggap rendah kepercayaan diri yang dapat Anda ciptakan jika diperoleh dukungan semua orang. Jika Anda menerapkan sistem propaganda dalam kediktatoran satu orang, Anda dapat meyakinkan orang bahwa mereka dapat melakukan apa pun."
Mengejek sang pemimpin
Saya seharusnya sudah menempuh setengah perjalanan menuju Beijing. Tetapi saya sekarang duduk di sebuah ruangan menjemukan di sebuah hotel di Pyongyang. Di dinding terdapat foto Kim Il-sung dan Kim Jong-il menatap ke bawah.
Sekarang, ekspresi mereka terlihat jahat.
Saya bingung, kaget. Di seberang meja, seorang pria kurus berwajah keriput karena bertahun-tahun merokok, menatap dengan wajah mengancam.
"Ini semua akan segera berakhir dan Anda dapat pulang," katanya, memutar-mutar rokok yang belum dihidupkan di tangan kanannya. "Jika Anda mengakui kejahatan dan meminta maaf, semua hal ini akan selesai. Jika Anda menolak, situasinya akan makin runyam.
Satu jam sebelumnya, saya berada di bandara Pyongyang bersiap-siap terbang ke Beijing. Sekarang saya ditanyai selama berjam-jam, kemungkinan akan berhari-hari.
Kejahatan saya, menurut si penanya, adalah 'menghina pemimpin negara, Kim Jong-un'. Tiba-tiba saja saya menjadi sangat khawatir.
Ini adalah pelanggaran serius. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa didakwa menghina Kim Jong-un. Tetapi pertanyaan ini menjadi tidak penting. Saya sudah diputuskan bersalah. Sekarang sang interogator harus mendapatkan pengakuan saya.
Menjelang malam ada perubahan tim dan ancaman semakin menakutkan. Interogator baru menatap dengan mata dingin dan kejam.
"Saya yang menyelidiki Kenneth Bae," katanya. "Anda tahu kan maksud saya?"
Saya paham. Kenneth Bae adalah pastor Amerika asal Korea yang dihukum 15 tahun kerja paksa oleh Korea Utara. Dia menjalaninya selama 735 hari sebelum dicapai kesepakatan untuk membebaskannya.
Interogasi yang saya alami menakutkan tetapi juga mirip mimpi. Saya diundang ke Pyongyang untuk meliput kunjungan tiga pemenang Hadiah Nobel. Kemudian saya ditahan dan diancam hukuman penjara karena rezim yang berkuasa tidak menyukai tulisan saya.
Saya 'telah gagal memahami' undangan yang saya terima untuk meliput ke Korea Utara: tidak mempertanyakan versi kebenaran Korea Utara yang mereka sampaikan untuk dunia luar. Saya telah melakukan pelanggaran, saya telah menjadi musuh.
Beberapa minggu kemudian di Seoul seorang pembelot senior Korea Utara menjelaskan.
"Kejahatan Anda bukan hanya karena mengkritik Kim Jong-un, tetapi tempat di mana Anda melakukannya," katanya. "Yaitu di ibu kotanya sendiri."
Dia yakin satu-satunya orang yang dapat memenjarakan dan membebaskan saya adalah Kim Jong-un.
"Anda sangat beruntung bisa keluar," katanya.
Profesor Paik Hak-soon adalah direktur Center for North Korean Studies, Sejong Institute, Korea Selatan. Dia juga berpikir saya beruntung dapat dibebaskan 'hanya' dengan pengusiran.
"Jati diri Kim adalah sebagai seorang raja," katanya. "Harga dirinya tidak mengizinkan adanya kritik atau oposisi. Orang atau negara yang mempertanyakan atau menentangnya, sudah pasti akan dihukum."
Korea Utara memiliki sejarah panjang penahanan orang asing karena pelanggaran kecil. Kim Jong-un terutama terkenal karena hal ini. Sejak tahun 2011, 12 warga asing dan empat warga Korea Selatan ditahan Pyongyang.
Tiga bulan sebelum penahanan saya, pada tahun 2016 seorang wisatawan Amerika, Otto Warmbier, dihukum 15 tahun kerja paksa karena mencuri poster propaganda dari dinding sebuah hotel. Hukumannya dipandang tidak sebanding dengan dugaann kejahatannya.
Warmbier pada akhirnya dikembalikan ke AS karena mengalami cedera otak yang parah, dan meninggal beberapa hari kemudian. Banyak pengamat memandang kasusnya ini tidak biasa. Tahanan Amerika jarang disiksa secara fisik - karena terlalu berharga.
Bagi Pyongyang, tahanan AS adalah pion permainan diplomatik. Mereka memaksa pemerintah Amerika untuk melakukan perundingan panjang dan akhirnya mengirim utusan tokoh terkenal untuk memastikan terjadinya pembebasan secara fisik. Mantan Presiden AS Jimmy Carter adalah salah satunya. Tahun 2009 mantan Presiden Bill Clinton mengunjungi Pyongyang untuk membawa pulang dua wartawan Amerika yang ditahan.
David Straub, pensiunan diplomat AS, mendampingi Bill Clinton pada kunjungan tersebut.
"Pihak Korea Utara pada dasarnya mendesak kedatangan Bill Clinton dan itulah satu-satunya cara untuk mengembalikan kedua wartawan," katanya. "Jelas bahwa Korea Utara hanya menginginkan foto Kim Jong-il dengan Bill Clinton, sehingga mereka dapat menunjukkan kepada rakyatnya dan dunia, dan merasa puas karena dapat memaksa Amerika untuk mematuhi kemauannya."
Tetapi apa yang benar-benar diinginkan Kim Jong-un bukan seorang mantan presiden. Dia menginginkan pejabat yang sebenarnya, ia menginginkan presiden Amerika yang masih menjabat.