Temuan BNPT soal Sejumlah Universitas Terpapar Radikalisme Dipertanyakan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Selasa 05 Juni 2018 07:30 WIB
Tim Densus 88 geledak gelanggang mahasiswa Universitas Riau. Foto: Antara/Rony Muharrma
Share :

JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan pada hari Kamis (31/5/2018) bahwa potensi penyebaran paham radikalisme tidak hanya pada tujuh kampus yang dipaparkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Tetapi pernyataan BNPT yang menyebutkan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (UNDIP), hingga Institut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme, dipertanyakan sejumlah pihak.

"Kalau untuk UNAIR sebetulnya, untuk radikalisme yang menjadi teroris, itu sinyalemen saya, evaluasi saya, itu hampir tidak ada. Sistem pendidikan di Universitas Airlangga, termasuk di universitas-universitas lain, itu kemudian mengarah ke terorisme itu hampir tidak ada, kalau kita tidak mengatakan, tidak ada sama sekali," kata Aribowo, pengamat politik UNAIR Surabaya, salah satu kampus yang disebut BNPT terpapar radikalisme.

Pihak-pihak lain juga mempertanyakan rincian hasil temuan BNPT, misalnya terkait dengan metodologi penelitian, data dan definisi yang dipakai.

Sejumlah pengamat mengelompokkan radikalisme dalam bentuk terorisme kekerasan, pemikiran diskursif atau pemikiran radikal yang tidak pernah melakukan aksi kekerasan, dan radikalisme dalam bentuk intoleransi terhadap kelompok yang berbeda.

Pada hari Sabtu (2/8/2018) Densus 88 menangkap tiga alumni Universitas Riau (UNRI), yang diduga merakit empat bom untuk peledakan sejumlah tempat, termasuk gedung DPR di Jakarta.

"Yang namanya paham radikal tidak mengenal batas waktu, ruang dan wilayah. Terbukti ditemukan justru di Universitas Riau yang dilakukan oleh alumninya. Jadi kita tidak terpaku pada universitas di pulau Jawa misalnya," kata Irfan Idris, Direktur Deradikalisasi BPNT.

Jajak pendapat BNPT tahun 2017 memperlihatkan 39% mahasiswa di 15 provinsi tertarik pada paham radikal dan Riau termasuk dalam 15 daerah yang dikaji. Beberapa provinsi lainnya adalah Jawa Barat, Lampung, Banten, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Tengah.

Sementara pada bulan Agustus 2017, Wahid Institute menyebutkan 11 juta orang bersedia melakukan tindakan radikal, 0,4% penduduk Indonesia pernah bertindak radikal dan 7,7% mau bertindak radikal jika memungkinkan.

Sangat sedikit

Al Chaidar dari Universitas Malikul Saleh, Lhokseumawe, Aceh mengatakan jumlah mahasiswa yang terpapar radikalisme kekerasan sangat sedikit jumlahnya.

"Dari semua data yang kami miliki, itu tidak sinkron dengan data yang dimiliki BNPT. Kelihatannya BNPT itu tidak melakukan penelitian secara sangat serius dan asal menuduh ... Jadi saya kira ini yang harus dipertanggungjawabkan hasil penelitian mereka dan harus dipaparkan secara terbuka," kata pengamat terorisme Al Chaidar.

Dia menambahkan orang-orang yang radikal mempunyai kesadaran untuk membangkitkan sistem hukum, tata dunia baru dengan cara kekerasan, intoleran, brutal dan sadis.

Menurutnya terdapat hanya delapan mahasiswa aktif yang terlibat terorisme dari tahun 2002-2018, di antaranya mahasiswa UNAIR pendukung ISIS dan Universitas Hasanudin dan Muhamadiyah di Makasar yang terlibat kelompok Santoso.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya