Erdogan memerintahkan diadakannya pemilu sela saat mata uang Turki, lira, anjlok sebesar 17 persen terhadap dolar Amerika Serikat dan tingkat suku bunga utama naik menjadi 17,75 persen.
Sementara ekonomi Turki terus tumbuh dengan kuat –mencapai 7,4 persen pada kuartal I/2018– muncul kekhawatiran akan terjadi keanjlokan di masa depan dan turunnya lira telah memengaruhi kemampuan rakyat.
Dengan memenangkan 52,5 persen suara, Erdogan mengalahkan saingan terdekatnya Muharrem Ince, yang hanya mendapatkan lebih 30 persen suara.
Partai AK-nya memenangkan 42,5 persen suara parlemen, dan bersama-sama dengan kelompok nasionalis, MHP, hal ini memberikannya mayoritas 343 kursi dari 600 kursi parlemen.
Keberhasilan kelompok nasionalis ini mengejutkan para pengamat dan merupakan sebuah bonus bagi Erdogan, karena partainya sebelumnya diperkirakan akan kalah karena bintang AKP, Meral Aksener, membentuk partainya sendiri.
Erdogan tetap memenangkan dukungan di pusat kekuasaannya di daerah konservatif di luar kota-kota besar dan di antara pemilih di Jerman, Belanda, dan Prancis.
Di bawah AKP, Turki memeluk Islam moderat yang menerima simbol Islamis di kehidupan sehari-hari sampai taraf tertentu –misalnya mengizinkan pegawai negeri perempuan mengenakan penutup kepala. Di pihak lain Partai Rakyat Republik (CHP) Ince sangat sekuler.
Dia menciptakan kerumunan besar-besaran menjelang pemilu di Izmir, Ankara, dan Istanbul, tetapi sementara mencatat kemenangan pada pilpres, partainya tidak mampu menularkan daya tariknya di luar kelompok sekuler. CHP mendapat sekira 22 persen dukungan.
Meskipun pemimpinnya dipenjara dan diberlakukan pembatasan terhadap pemilih di wilayah Kurdi di tenggara, partai pendukung Kurdi yang secara tegas menentang Erdogan, memenangkan 11,6 persen suara pilpres dan akan terus berperan penting di parlemen.
(Hantoro)