Mengapa Sejumlah Pria Papua Nugini Menyayat Kulit Agar Mirip Buaya?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 30 Agustus 2018 16:36 WIB
Foto: BBC.
Share :

Dia memperlihatkan ikatan tambang pada salah satu rumah roh dimana masing-masing simpul mewakili sebuah kepala. Dan dia menjelaskan kepala-kepala tersebut sudah tidak memiliki daging, yang telah dicampurkan dengan daging babi dan anjing untuk disantap anak-anak agar mereka menjadi kuat.

Saya membayangkan kebiasaan tersebut pasti sudah menghilang sejak lama, sehingga saya menjadi terkejut ketika dia menegaskan praktek tersebut sebenarnya baru berakhir pada sekitar tahun 1943.

Dia mengatakan ritual massal berikutnya di mana para anak pria desa akan menjadi bagian tradisi buaya akan dilakukan pada bulan November ini.

"Adalah penting bagi kami untuk melanjutkan hal ini di Parambei," dia menegaskan. "Penyayatan buaya membuat kami memiliki tujuan. Setelah merasakan rasa sakit penyayatan, mereka siap menghadapi apapun dalam kehidupan."

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya