Kondisi demikian memaksa pemerintah setempat membuat terobosan dalam bidang teknologi pertanian. Lahan kering disulap menjadi lahan subur dengan menambah banyak pupuk sebagai pondasi tanam, sedangkan dalam lahan rawa, pemerintah setempat mengakalinya dengan menebar pompa yang memungkinkan lahan yang penuh air bisa ditumbuhi tanaman padi.
"Di lahan kering, kita menanam dengan komposisi 2/3 pupuk dan sepertiganya tanah setempat, karena tanah di daerah kering itu merupakan tanah kering dengan kontur bebatuan yang sangat sulit sebenarnya ditanami tumbuhan," jelas Kepala Dinas Pertahanan Pangan dan Holtikultura Kalimantan Selatan, Fathurrahman saat ditemui Okezone di Banjarbaru.
Sedangkan di lahan rawa, pemerintah membuat semacam kanalisasi perairan dengan pompa yang memiliki daya hisap 3000-4000 liter air per jam. Rekayasa ini membuat lahan yang semula hanya bisa ditanami sekali dalam setahun, bisa berevolusi menjadi sebuah lahan penyumbang ketahanan pangan di Kalsel.
"Tadinya hanya bisa sekali ditanami, tapi dengan teknologi ini, lahan bisa ditanami hingga dua kali setahun, kita targetkan bisa menyerap hingga 22.000 ton beras dalam 2018 ini," ungkap Fathurrahman.