Pengalaman serupa juga turut dirasakan oleh Muhammad Abbas dan istrinya Siti Muthmainnah saat ditemui di Jalan Manggis, Perumnas Balaroa, Palu.
Abbas menuturkan, tanah yang berubah menjadi lumpur bergerak cepat meluluhlantakkan Perumnas Balaroa. Menurut dia, luas area di Balaroa yang terkena likuefaksi sekira 40 hektare dan dihuni 400 kepala keluarga. Namun, hanya sedikit yang selamat.
Ditambahkan Abbas, rumah-rumah di belakang rumahnya berpindah tempat, tertimbun tanah. Dia menjelaskan, dulu lokasi likuefaksi di Balaroa bekas rawa yang ditimbun.
"Saya lihat mayat ditarik sama Basarnas. Karena banyak yang tertimbun air," kata Istri Abbas
Banyaknya warga yang menggunakan sumur bor, kata Abbas, membuat tanah menyemburkan air saat fenomena likuefaksi terjadi. "Jadi kayak kolam banyak air apalagi di situ bekas rawa. Jadi ketemu jadi kaya kolam. Getarannya kuat," kata Abbas menimpali istrinya.
(Baca Juga: Kisah Rahman, Menanti Anak dan Cucunya yang Hilang di Pantai Talise Palu)
Sama seperti di Petobo, kejadian likuefaksi di Balaroa juga terjadi menjelang Salat Magrib. Bahkan, adik Abbas bernama Riswan terluka saat perjalanan menuju tempat salat. "Sangat keras getarannya, saya lihat lumpur naik. Ada yang tidak jadi salat. Adik saya mau pergi salat dia buru-buru buka pintu, sehingga tangannya luka tersangkut di pintu. Kita juga sempat terlempar- lempar," ungkapnya.
"Belum sempat pakai baju muslim lalu langsung terjadi gempa. Tapi saat gempa dia belum lari. Nanti dia lari saat gempa sudah kencang," lanjutnya.
Setelah keluar rumah, barulah Riswan lari ke jalan. Lalu Abbas memeluk pohon di luar rumah. "Saya peluk pohon. Karena mau runtuh kita dipanggil turun. Kita turun lari ke belakang. Tetapi bapak tetap bertahan di pohon. Tapi pohon berjalan sendiri," katanya
"Anehnya itu pohon tetap berdiri. Sempat lepas itu pohon," tambah Abbas.
Sementara Riswan, kata Abbas, masih sempat merekam kejadian itu lewat HP-nya. Sehingga video itu viral di Facebook.
"Ade ku langsung merekam video dan menolong seorang nenek yang ada di atap depan rumah. Jadi nenek itu refleks saja melompat. Pucuk rumahnya sudah sama tinggi dengan aspal," imbuhnya.
Siti Muthmainnah manambahkan, setelah viral video adik iparnya itu disiarkan melalui televisi. "Nah video adek ku itu masuk di TV. Dan banyak yang lihat. Bahkan, keluarga nenek yang di Kabupaten Luwuk tahu bahwa rumahnya hancur. Itu gara-gara video adek ku," ungkap Siti.