Polemik Pemikiran Menyamakan Cawapres dengan Bung Hatta

, Jurnalis
Kamis 25 Oktober 2018 10:42 WIB
Dua pasangan peserta Pilpres 2019. (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA – Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Dr Ari Junaedi menyanyangkan strategi kampanye "ngasal" yang dilakukan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jurus kampanye terbaru seperti yang dinyatakan juru bicara koalisi yang didukung Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat ini "menyamakan" cawapres Sandiaga Uno dengan proklamator Bung Hatta.

Publik pun bereaksi, bahkan menyebut kesalahan besar menyejajarkan tokoh kaliber internasional seperti Mohammad Hatta dengan Sandiaga Uno. Tidak ketinggalan cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta, yang menyatakan tidak rela kakeknya disetarakan dengan Sandiaga.

(Baca juga: Dengarkan 'Suara Hati' Emak-Emak, Sandiaga Janji Perbaiki Ekonomi)

"Saya memprediksikan dua hal dari pernyataan Dahnil Anzar (jubir Prabowo-Sandi). Pertama, lemah dalam aspek komparasi tokoh dan sejarah bangsa, sehingga blunder dalam mengeluarkan pernyataan. Kedua, kelompok koalisi Prabowo-Sandi tengah memainkan strategi 'playing victim'. Dengan reaksi negatif dari masyarakat mengenai pernyataan ini, tujuan tersebut telah tercapai," ujar Ari Junaedi.

Menurut pengamatan peraih penghargaan World Custom Organization 2014 di bidang tata laksana komunikasi ini, dalam jangka panjang kubu Prabowo-Sandi akan memainkan strategi-strategi lain untuk meraih simpati publik.

"Belum lepas dengan pernyataan soal harga bawang dan cabai yang Rp100 ribu, tempe setipis ATM, pernyataan soal nelayan, atau tingkah memakai petai di kepala, serta main keseimbangan di tembok kuburan, Sandi akan menggunakan berbagai cara untuk mengerek elektabilitasnya," ungkap Ari Junaedi yang juga pembimbing disertasi di Pascasarjana Universitas Padjadjaran itu.

Dalam pandangan Ari Junaedi, kampanye-kampanye kita masih terjebak dengan politik identitas. Sangat lucu dan menggelikan jika Prabowo misalnya diidentikkan dengan Soekarno atau Sandiaga Uno seperti Mohammad Hatta.

(Baca juga: Prabowo-Sandi Kalah di Survei Populi Center, Dahnil: Untuk Memecut Militansi)

"Akan mirip jika Mahathir Muhammad yang disebut 'Soekarno kecil' karena keberaniannya memunculkan produk-produk nasional semasa dia memerintah Malaysia dulu. Akan menggelikan jika Prabowo menyandang sematan Soekarno, padahal tidak terbukti di rekam jejaknya. Kenapa pula Prabowo atau Sandiaga Uno tidak berani menyebut dirinya titisan Soemitro Djodjohadikoesoemo atau Soeharto misalnya? Kenapa pula harus Bung Hatta? Itu yang tidak make sense," ujar Ari Junaedi.

(Hantoro)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya