Wiranto menjelaskan kebebasan untuk bersikap pernah dilakukan mendiang puteranya, Zainal Nurizky yang meninggal dunia pada saat belajar Al Qur’an di Afrika Selatan. Bahkan sama seperti sekarang, saat itu sebagian orang mengatakan bahwa anaknya menganut Islam radikal, masuk Islam garis keras, kader terorisme dan seterusnya.
Padahal, lanjut Wiranto dengan kesadarannya sendiri puteranya itu minta izin untuk keluar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) karena keprihatinan dan kesadarannya melihat perilaku sebagian generasi muda yang tidak lagi memiliki kepribadian yang tepuji.
"Dia mendalami Alquran untuk memantapkan akhlaq dan moralnya sebagai basis pengabdiannya kedepan nanti sebagai generasi penerus. Lewat internet, dia memilih tempat belajar Alquran yang bebas politik, Ponpes Internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan yang khusus untuk memantapkan pemahaman Alquran yang mengedepankan persaudaraan dan kedamaian, bukan sekolah teroris," papar Wiranto.
"Sayang sekali baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, dia meninggal disana karena sakit, disaat membaca ayat-ayat suci. Maka saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, sayapun hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani," tandasnya.
(Awaludin)