Sementara itu seorang ASN di lingkup Sekretariat DPRD Provinsi NTT Finsensius Lake, mengaku sejak penerapan displin ASN oleh gubernur dan wakil gubernur terpilih, ASN pemerintah setempat mulai terlihat rajin. Bagaimana tidak, tiap unit dan dinas harus melaksanakan apel pagi tepat pukul 07.00 WITA dan mendata setiap ASN yang ikut dalam apel itu.
"Masing-masing ASN harus tandatangan daftar hadir meskipun sudah lakukan absensi melalui elektronik atau 'check lock'," katanya.
Dari setiap daftar hadir yang ditandatang tangani oleh masing-masing ASN itu lalu harus diantar dan berada di meja gubernur sebelum pukul 08.00 Wita. Itu artinya jika ada yang terlambat maka bisa diketahui dari absensi manual itu. "Nah mungkin dari data itulah ASN bersangkutan diberikan sanksi. Tapi mekanismenya itu bukan urusan saya yang pegawai kecil ini," katanya.
Bekas honorer yang kemudian diangkat menjadi ASN beberapa tahun lalu itu mengaku memang selama ini perilaku ASN sangat malas. "Datang seenaknya dan bisa pulang kapan saja. Dan itu sudah biasa apalagi kalau tak ada pekerjaan," katanya berceritera.
Dia berharap dengan pola dan cara baru ini, bisa segera mengubah pola dan gaya serta perilaku ASN dalam melaksanakan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Setidaknya rompi oranye yang biasanya dikenakan oleh para tersangka korupsi di KPK dan diterapkan di NTT ini bisa menjadi pemicu bagi ASN untuk kembali setia melaksankan tugas dan kewajibannya sebagai abdi masyarakat, bangsa dan negara dengan berdisiplin diri.
"Kalau kita disiplin dan melaksanakan tugas kita secara penuh tanggung jawab maka saya kira kita akan merasa terhormat juga menerima upah di setiap awal bulan," katanya. "Ya, saya kira ini bagian dari otokritik saya untuk kami ASN," katanya.
Dari semuanya itu, pemerintah melalui Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Adrianus Naesoi berharap akan ada kemajuan berarti bagi pelayanan kemasyarakatan demi pencapaian kemajuan dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini.
(Khafid Mardiyansyah)