Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia Lolos dari Korea Utara, lalu Jadi Pelaku

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 17 Desember 2018 06:54 WIB
"Nyonya B" dijual kepada seorang pria Cina dan kemudian berakhir menjual perempuan-perempuan lain. (Cinesofa)
Share :

"SAYA menangis. Itu tidak adil. Saya 'diperkenalkan' kepada banyak pria, meski saya sudah punya suami dan anak-anak di Korea Utara. Saya merasa karena saya lahir di negara yang salah, saya masuk ke dalam kekacauan ini."

'Nyonya B' berusia 36 tahun ketika dia 'dijual' kepada seorang pria Cina pada 2003.

Dia menyeberangi perbatasan dari Korea Utara (Korut) ke Cina, berpikir bahwa dia akan bekerja sebagai pembantu untuk para lansia.

'Nyonya B' mengatakan, pada akhirnya dia menyangka bahwa perdagangan manusia adalah sesuatu yang harus dialami semua perempuan Korut.

Melarikan diri dari Korea Utara

Setidaknya itulah yang dikatakan seorang muncikari kepadanya.

Tapi itu ternyata bohong.

Rencananya adalah dia akan mengumpulkan uang selama setahun di Cina lalu pulang kampung ke Korea Utara.

Dengan begitu, dia akan membantu memberi makan suaminya dan dua putranya di Korea Utara.

Mendapat suami baru jelas bukan rencananya.

Dijual kepada seorang pria Cina

Di Changchun di Provinsi Jilin, Cina, dia dan seorang perempuan Korea Utara lainnya 'diperkenalkan' kepada lima pria Cina.

Broker alias muncikari itu kemudian berkata kepadanya "hiduplah dengan seorang pria Cina, selama satu tahun saja, kemudian kaburlah, melarikan diri".

Namun urusannya jauh lebih pelik -sudah bisa diduga. Dan lahirlah sebuah film karya sutradara Jero Yun, yang mengungkap kisah Nyonya B termasuk semua ironi kehidupannya.

Salah satu ironi dalam film itu, yang diberi judul 'Mrs B, A North Korean Woman' (Nyonya B, seorang Perempuan Korea Utara), berkaitan dengan bagaimana dia membangun rasa kasih sayang kepada pria Cina yang membelinya. Keduanya tinggal bersama selama 10 tahun.

Namun masih ada yang lainnya.

Menjadi pelaku perdagangan manusia

Meskipun ia adalah korban perdagangan manusia, dia akhirnya justru menjadi pelaku - yang menjual perempuan-perempuan Korea Utara kepada pria-pria Cina.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC di Korea baru-baru ini, dia mengatakan jumlah perempuan yang dijualnya mencapai sekitar 50 orang.

Dia melintasi perbatasan Cina-Korea Utara dan kemudian perbatasan Cina-Laos untuk pergi ke Korea Selatan, semuanya supaya dia bisa mempertahankan keluarganya yang sebetulnya di Korea Utara.

Meski Korea Selatan adalah negara yang bebas, namun negeri itu katanya membuatnya 'muak', bukannya bahagia.

Dari kehidupan nyata ke sebuah film

Namun sayangnya kisah kehidupannya bukanlah hal yang aneh-aneh betul.

Perdagangan manusia adalah sesuatu yang banyak dialami perempuan Korea Utara saat mereka ingin melarikan diri dari negara komunis itu.

Banyak perempuan akhirnya melahirkan anak hasil hubungan dengan pria-pria Cina yang membeli mereka dan berakhir dengan bermukim di sana.

Begitupun banyak orang Korea Utara yang datang ke Korea Selatan dan mengatakan mereka menyesal datang ke Korea Selatan dan sebagian bahkan pindah ke negara lain.

Namun bagaimana perasaannya kepada pria yang membelinya?

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya