Kisah Perempuan Korban Perdagangan Manusia Lolos dari Korea Utara, lalu Jadi Pelaku

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 17 Desember 2018 06:54 WIB
"Nyonya B" dijual kepada seorang pria Cina dan kemudian berakhir menjual perempuan-perempuan lain. (Cinesofa)
Share :

Dia mengakui itu memang 'perdagangan manusia', namun menekankan bahwa dia tidak mengelabui mereka - tidak seperti yang dilakukan seorang broker kepadanya pada 2003. Ia mengatakan perempuan-perempuan itu juga menyepakati hal itu.

Dalam hal itu, dia mengaku bahwa dia telah membantu mereka menemukan suatu cara untuk hidup.

"Perempuan-perempuan Korut yang melarikan diri dari rezim tak memiliki siapapun untuk diandalkan."

"Namun jika saya menjodohkan mereka dengan pria, mereka dapat menikah dan hidup dengan aman. Jika mereka tinggal di jalanan, mereka dapat tertangkap dan dikirim ke penjara di Korut dan mereka tidak menginginkan itu."

Dia berkata dia dan para perempuan (yang dijual) akan berbagi uang penghasilan 50%:50%.

Dia juga menerjemahkan permintaan-permintaan para perempuan ke keluarga Cina yang membeli mereka dalam bahasa Cina - seperti persyaratan pernikahan misalnya, atau mengirim uang ke keluarga perempuan Korut ke negerinya setiap bulan.

Namun apakah dia mereka bersalah? Mengingat dia sendiri dulunya adalah seorang korban dan kemudian menjadi pelaku?

"Saya pikir perdagangan manusia adalah sesuatu yang harus dihadapi semua perempuan Korea Utara," jawabnya.

"Saya tadinya ditipu namun setidaknya perempuan-perempuan ini tahu apa yang akan mereka jalani. Jadi mungkin mereka akan sakit hati tapi tidak sebesar yang saya rasakan," tambahnya.

Berada di kondisi mereka

Selain menjual perempuan-perempuan Korut ke pria Cina, Nyonya B juga bekerja sebagai perantara mengirim orang Korut ke Korsel.

Dia mengatakan dia telah menyelundupkan setidaknya 50 orang Korut ke Korsel. Dan kali ini, dia dapat berada dalam kondisi mereka.

"Saya menggunakan rute yang sama yang digunakan putra bungsu saya dua bulan sebelumnya. Dia mengatakan kepada saya rute itu sangat berat dan mengingatkan saya untuk membekali diri dengan banyak apel di tas saya," kenangnya.

"Saya tak dapat menjelaskan bagaimana susahnya. Hati saya hancur. Saya berpikir mengapa kami -orang Korut- harus melalui siksaan ini untuk bertahan hidup."

Pembuat film dan sutradara Jero Yun yang menemaninya dalam pelariannya dari Cina ke Asia Tenggara menggunakan sebuah mobil van, berjalan kaki dan menggunakan sebuah traktor, mengatakan ke BBC di Korea bahwa perjalanan "itu sangat menantang secara fisik bagi saya, dengan hanya satu kamera dan sendirian, untuk menunjukkan semua detail dari perjalanan yang begitu menantang itu."

'Memberi obat penenang kepada seorang bayi'

"Meski saya tidak dapat merekam banyak hal, itu adalah perjalanan yang memberikan saya pelajaran terbesar dalam hidup saya," katanya.

Di dalam film, saat sekelompok pembelot menyeberangi perbatasan Cina-Laos dengan berjalan kaki, seorang bayi - yang ada di dalam kelompok itu - menangis dan membuat mereka panik.

Peristiwa itu tidak ditunjukkan di dalam film, namun dalam kenyataannya mereka akhirnya memberi obat penenang ke anak itu, ungkap Nyonya B.

Mereka tidak punya pilihan karena seluruh kelompok berisiko tertangkap, katanya.

Dari Laos ke Bangkok, mereka berbaring di balik traktor untuk menghindari tertangkap oleh pihak berwenang.

Bagian perjalanan ini ditampilkan di dalam film dengan Yun juga ikut berbaring dan merekam langit - yang cerah dan berwarna biru.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya