Pria Afghanistan Enggan Perempuan di Negaranya Lebih Bebas

ABC News, Jurnalis
Rabu 30 Januari 2019 08:14 WIB
Kawasan Afghanistan (ABC)
Share :

Afghanistan bukanlah tempat yang mudah untuk menjadi seorang wanita, dengan praktek perkawinan paksa, kekerasan dalam rumah tangga dan angka kematian ibu yang tinggi, khususnya di daerah pedesaan, menurut para pendukung kesetaraan.

Antara tahun 1996 dan 2001, di bawah pemerintahan Taliban, perempuan dilarang bekerja, dipaksa mengenakan burqa lengkap yang menutupi wajah mereka dan tidak diizinkan keluar tanpa kerabat laki-laki.

Hak-hak perempuan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir di bawah pemerintah Afghanistan yang didukung Barat, terutama di kota-kota seperti ibukota Kabul, di mana banyak perempuan bekerja di luar rumah dan lebih dari seperempat anggota parlemen adalah perempuan.

Data terakhir yang tersedia dari Inter-Parliamentary Union pada tahun 2018 menunjukkan bahwa parlemen Afghanistan memiliki lebih banyak perwakilan perempuan daripada Kanada, Irlandia, dan Israel.

Pentingnya pelibatan pria

Namun, survei terhadap 2.000 orang dewasa menunjukkan adanya jurang perbedaan sikap antara pria dan wanita.

Sekitar dua pertiga pria berpikir wanita di Afghanistan memiliki terlalu banyak hak dan bahwa wanita terlalu emosional untuk menjadi pemimpin, dibandingkan dengan kurang dari sepertiga wanita yang berpendapat sebaliknya.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya