Krisis Venezuela: Dari Rusia sampai Turki, Mengapa Banyak Negara Mengamati Nasib Presiden Maduro?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Minggu 03 Maret 2019 07:50 WIB
Krisis Venezuela mendapatkan banyak perhatian dunia. (Getty Images)
Share :

Carlos de Sousa mengatakan kepentingan ekonomi Rusia sangat jelas: "Moskow menginvestasikan - dalam bentuk pinjaman atau secara langsung - sekitar US$10 miliar atau Rp140 triliun," katanya.

Beberapa pengamat memperkirakan angka ini dapat mencapai US$17 miliar atau Rp239 triliun.

Carlos de Sousa mengatakan Rusia memandang turunnya produksi minyak dan resesi ekonomi di Venezuela sebagai kesempatan untuk membeli aset pada industri minyak negara itu dengan harga yang murah.

Tetapi beberapa anggota parlemen Rusia menjadi khawatir. Sejumlah pertanyaan dilontarkan terkait nasib uang yang dipinjamkan ke Venezuela karena khawatir investasi Rusia tidak akan kembali.

Famil Ismailov percaya tidak terlalu banyak harapan Venezuela akan membayar pinjaman.

"Ketika Rusia investasi di sebuah negara, mereka melakukannya karena alasan politik bukan karena ekonomi, "katanya. "Dana (yang diberikan ke Venezuela) tidak akan kembali. Ini adalah pembayaran kepada Venezuela karena mendukung kepentingan Rusia."

"Sangatlah penting bagi pemerintah Rusia untuk menunjukkan bahwa, meskipun sanksi diterapkan, mereka memainkan peran adidaya, lewat ikatan dengan negara sahabat. Adalah berguna membayar untuk itu."

Meskipun demikian, Carlos de Sousa memandang Rusia kemungkinan akan mendapatkan kembali 50% dari yang telah diberikan ke Maduro.

Menurut de Sousa, perusahaan minyak pemerintah Venezuela PDVSA telah membayar kembali sekitar setengah dari pinjaman US$6 miliar atau Rp84 triliun yang diterima dari Rosneft perusahaan minyak pemerintah Rusia. "Sisa pinjaman kemungkinan akan hilang sama sekali," kata de Sousa.

"Tetapi saya pikir investasi langsung Rosneft di sumur minyak di Venezuela bagian selatan tidak akan lenyap karena oposisi Venezeula telah mengisyaratkan kepada Cina dan Rusia bahwa mereka ingin melanjutkan perdagangan dengan mereka lewat pemerintah yang akan mereka pimpin, karena mereka tertarik pada investasi asing dari manapun."

Pada kenyataannya negara Amerika Selatan menjadi topik pembicaraan di Iran pasca pemilihan presiden tahun 2017.

Karena itulah kata baru muncul dalam bahasa Persia, 'Venezuleoi', atau 'Venezuelaisation'. Ebrahim Khalili menjelaskan artinya sebagai "tiba pada keruntuhan ekonomi yang sama seperti yang dialami Venezuela."

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya