JAKARTA - Pengamat Politik dari Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi), Hendri B Satrio menilai ambang batas parlemen yang mencapai 4% membuat banyak partai menjadi lebih individualis.
Hendri mengatakan, pada pemilu serentak 2019, semua partai politik memiliki dua kepentingan yakni bagaimana meloloskan wakilnya di DPR dengan ambang batas 4 persen termasuk meloloskan wakilnya ke DPRD dan meloloskan presiden yang diusung.
Hal tersebut diucapkan Hendri menanggapi pidato Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia atau PSI Grace Natalie dalam acara Festival 11 di Medan, Senin 11 Maret 2019 menyerang sikap partai yang berlabel nasionalis di Indonesia.
Dalam pidatonya, Grace menyinggung banyak partai yang mengaku nasionalis namun justru mendukung peraturan daerah (Perda) syariah yang diskriminatif.
“PSI mau tidak mau harus konsentrasi untuk menyelamatkan partai lolos ke parlemen dari 4 persen ambang batas. Makanya apa yang dilakukan kemarin itu, dia sangat individualis, dia berjuang sendiri untuk partainya. Ingin publik tau PSI beda, tapi pakai cara omong kasar ke parpol lain,” ucapnya, Rabu (13/3/2019).
Hendri menilai apa yang dilakukan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) menyerang partai nasionalis dapat mengganggu elektabilitas calon petahana Joko Widodo (Jokowi).
“Apakah akan menganggu Jokowi ya bisa saja, tapi yang banyak komentar partai koalisi Jokowi sendiri kan,” kata Hendri kepada wartawan.
Menurut dia, apa yang dilakukan PSI dengan mengkritisi partai nasionalis termasuk partai koalisi Jokowi itu sebetulnya untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas serta mendorong sebagai partai pembeda.
Meskipun, Hendri menganggap sebenarnya strategi dan tujuan PSI itu bagus. Cuma, isu yang dibawa PSI soal kesetaraan dimana isu tersebut dari hasil survei bukan menjadi permasalahan pokok yang diperhatikan masyarakat Indonesia.
(Baca Juga: Amien Rais Tuding Tim Jokowi Lakukan Money Politic, TKN: Jangan Fitnah!)
Akan tetapi, saat ini permasalahan pokoknya adalah ekonomi dan lapangan pekerjaan. Harusnya, PSI berani masuk ke ranah isu premier ekonomi yakni bagaimana cara mengentaskan kemiskinan dan partai ini membuka lapangan kerja lebih banyak.
Memang, kata Hendri, isu ekonomi ini terdengar lebih eksekutif. Namun, PSI yang mengusung kadernya sebagai calon anggota legislatif tentu harus memperbaiki apa yang menjadi masalah dalam ekonomi.
“Kenapa sih lebih fokus permasalahan di Medan itu dan bangga sekali? Kenapa tidak bahas Tolikara misalnya. Menurut saya, lebih tepat dilaksanakan karena akhirnya orang-orang akan terfokus apa yang disampaikan PSI ternyata bolongnya banyak,” ujarnya.
(Khafid Mardiyansyah)