Tarif impor untuk produk peternakan Indonesia yang dikenakan Jepang tergolong tinggi, rata-rata mencapai 23,6 persen (ad valorem). Terdapat 8 pos tarif untuk susu dan produk susu dengan tarif impor di atas 100 persen, bahkan dua di antaranya lebih dari 200 persen. Namun, ada 48 pos tarif yang dikenakan 0 persen tarif impor. Hal ini berlaku untuk jeroan, telur, kulit, dan bulu unggas termasuk kalkun, itik, dan burung; daging dan jeroan dari domba, kuda, kambing, kelinci, serta marmot; dan beberapa produk yang termasuk kategori bibit.
Tarif impor untuk produk daging dan olahan daging yang diberlakukan Jepang untuk Indonesia beragam, dari rendah ke tinggi, yaitu berkisar dari 7 persen untuk olahan daging dan jeroan itik, hingga 25 persen untuk olahan daging dan jeroan sapi.
Tarif bukanlah hambatan ekspor bagi produk peternakan. Kesulitan menembus pasar ekspor Jepang adalah memenuhi standar keamanan dan kesehatan pangan. Oleh karena itu, apabila suatu produk/komoditas telah diterima di pasar Jepang, maka akan lebih mudah diterima di pasar ekspor negara lain.
Indonesia Siap Bersaing di Pasar Jepang
Pasar ekspor produk pertanian ke Jepang dapat dibagi dalam lima jenjang potensi pasar. Jenjang pertama dengan potensi ekspor mencapai $1,5-3,2 milyar adalah daging babi, daging sapi, daging dan jeroan unggas, serta jagung tidak untuk benih. Pada jenjang kedua ditempati kedelai, keju dan produk susu yang lain, kopi, kelapa sawit, serta minyak nabati lain termasuk kelapa, bunga matahari, dan wijen. Produk hortikultura buah-buahan dengan dominasi pisang dan disusul jenis buah lain yang diimpor Jepang seperti kiwi, alpukat, jeruk, jeruk nipis, anggur, nanas, stroberi, ceri, melon, semangka, beri, kelengkeng, pepaya, kurma, durian, dan apel menempati jenjang ketiga.
Selanjutnya serealia, biji-bijian, dan kacang-kacangan berupa gandum, kacang almond, kacang mede, dan pistachio berada pada jenjang keempat. Selain itu pada jenjang keempat ini terdapat produk peternakan seperti madu dan telur serta hortikultura bunga potong dan tanaman hias. Jenjang kelima ditempati beragam produk, antara lain hortikultura sayuran; bahan minuman penyegar seperti kakao dan produk kakao; gula; rempah-rempah; beras sosoh; bulu dan kuku binatang termasuk gading; teh; serta lemak binatang.
Sumber utama impor produk peternakan untuk Jepang adalah Amerika Serikat (AS). Selanjutnya disusul oleh Thailand, Australia, Brazil, Jerman, Selandia Baru, China, dan Uni Eropa. Dilihat dari realisasi ekspor, sebaran ekspor produk peternakan paling optimal dilakukan oleh Australia, yaitu mencapai 93,4 persen dari total potensi ekspor di pasar Jepang.