AS mendominasi ekspor tanaman pangan di pasar Jepang, khususnya untuk produk serealia, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
Nilai ekspor AS mencapai lebih dari $3,4 milyar, sementara negara lain hanya sekitar $500 juta, sehingga AS menguasai pasar produk tanaman pangan di Jepang hingga 90 persen. Sebaran nilai impor produk perkebunan di Jepang menunjukkan bahwa Malaysia dan Indonesia merupakan sumber utama kelapa sawit dan karet. Kontribusi negara lain dapat diabaikan karena sangat kecil. Untuk kakao dan produk kakao sumber utama impor Jepang adalah Ghana, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Uni Eropa, AS, dan Amerika Latin.
Sayangnya realisasi ekspor Indonesia baru mencapai 27,4 persen dari potensi yang ada. Sementara Malaysia dan Ghana sudah di atas 70 persen. Singapura, negara tanpa tanaman kakao ini realisasi ekspor kakao dan produknya telah mecapai 100 persen potensi ekspor yang ada.
“Pesaing Indonesia untuk ekspor kopi di Jepang demikian banyak. Mulai dari eksportir terbesar Brazil, lalu disusul Kolombia, Vietnam, Guatemala, dan Ethiopia. Dengan penguatan kualitas produk, Indonesia sangat potensial untuk bisa memperluas penetrasi ekspor ke pasar Jepang,” tutup Sri optimistis.
(Abu Sahma Pane)