Partai Pimpinan Erdogan Tolak Hasil Pilkada Setelah Kalah di Ankara

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Selasa 02 April 2019 02:22 WIB
Para pendukung partai oposisi merayakan kemenangan dalam pilkada di Istanbul. (Yasin Akgul/Getty Images)
Share :

'Pukulan menyakitkan'

Analisis Mark Lowen, Koresponden BBC Turki

Presiden Erdogan menggambarkan pemilihan daerah kali ini adalah soal kelangsungan hidup. Kini dia mengalami pukulan yang menyakitkan.

Untuk pertama kali dalam seperempat abad, partainya kehilangan kendali di ibu kota Turki, Ankara.

Kemudian di Istanbul yang merupakan kekuatan ekonomi Turki, ada perbedaan tipis antara Partai AK yang berkuasa dan partai oposisi.

Sebagaimana ditunjukkan perhitungan resmi, ada selisih kurang dari 3.000 suara antara kedua kandidat di kota berpendudul 18 juta orang ini. Keduanya sama-sama mengklaim telah menang.

Namun perhitungan terhenti ketika lebih dari 1% kotak suara belum dibuka. Ini taktik, kata kubu oposisi, untuk mencuri kemenangan.

Ini bisa jadi momen menentukan bagi presiden Turki yang penuh kuasa: tatkala oposisi yang lama dipandang sekarat merasa dia bisa dikalahkan.

Bagaimana jalannya kampanye?

Ini adalah pilkada pertama sejak Erdogan mendapat banyak kewenangan melalui pemilihan presiden tahun lalu.

Partai AK telah memenangi setiap pemilu sejak berkuasa pada 2002.

Lantaran banyak media propemerintah atau dikendalikan pendukung Erdogan, sejumlah kritikus meyakini kubu oposisi berkampanye dalam posisi tidak menguntungkan.

Partai Rakyat Demokratis (HDP) yang pro-Kurdi, mengatakan pemilihan berjalan tidak adil dan menolak menempatkan kandidat di sejumlah kota.

Beberapa pemimpinnya dipenjara atas dakwaan terorisme, tuduhan yang mereka tolak.

Pawai Erdogan mendominasi berita di televisi. Dalam salah satu pawai, Sabtu lalu, presiden meyakinkan para pemilih dan para pendukung partainya bahwa semuanya dalam kendali.

"Saya adalah bos ekonomi sekarang sebagai presiden negara ini," ujarnya seraya menyalahkan negara-negara Barat, terutama AS, atas guncangan ekonomi yang dialami Turki.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya