"Ibunya tadi saat kita bertakziyah, terlihat masih berduka ya, apalagi saat dikubur. Setelah itu sudah mulai mendingan, lebih tenang," ucapnya.
Almarhum Fauzan divonis mengidap DMP sejak tahun 2015 silam oleh tim dokter. Sejak itulah, kaki dan tangannya semakin sulit digerakkan. Untuk beraktivitas sehari-hari, dia harus dibantu penuh oleh sang ibu. Termasuk untuk makan, minum, ke kamar mandi dan berangkat ke sekolah.
Saat berada di ruang kelas, Fauzan hanya bisa belajar sambil didudukkan di atas bangku dengan penopang di bagian leher. Namun, dia tak dapat bersandar, lantaran otot-otot di bagian punggungnya pun akan sulit digerakkan untuk bisa bangkit ke posisi normal.
Sebenarnya pihak sekolah telah memberi kebijakan khusus dengan tidak memberi tugas-tugas sekolah yang memberatkan kepada Fauzan. Apalagi setelah sepeninggal ayahnya pada Februari 2019 lalu, dia kini hanya diurus dan dirawat oleh ibunya seorang diri.
Meski dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, Fauzan menunjukkan semangat luar biasa agar bisa tetap bersekolah. Menuruti tekad keras itu, saban hari ibunya rela membopong Fauzan masuk ke kelas, dan menjemputnya kembali pulang pada siang hari.