Mardani Ali Sera Haramkan #2019GantiPresiden, Tanda Prabowo Mulai Ditinggalkan Anggota Koalisi?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Selasa 07 Mei 2019 07:46 WIB
Foto: Getty Images
Share :

Hal itu, menurutnya, dikarenakan disparitas suara Jokowi-Ma'ruf terlampau dominan. Hal tersebut mengakibatkan anggota koalisi Prabowo-Sandi sulit berspekulasi untuk menyatakan bahwa pasangan yang mereka usung masih mampu membalap suara Jokowi.

"Kalau kekalahannya cuma dua atau tiga persen, mungkin mereka masih berpekulasi bahwa 02 ini akan mampu membalap dan melampaui. Tapi ini selisihnya di atas 10%, jadi dalam kondisi apa pun, saya kira agak susah untuk mengalahkan," ujar Adi.

Mardani Ali Sera

Disparitas suara itu yang kemudian membuat PKS, PAN, dan Demokrat tampak 'melunak' belakangan. "Wajar kalau mereka ini mengharamkan segala sesuatu yang menjadi alat agitasi dan propaganda mereka ini dari jauh-jauh hari."

Langkah pragmatis

Sementara menurut pengamat politik dari Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Hurriyah, sikap partai anggota Koalisi Adil dan Makmur yang "melunak" disebabkan oleh politik pragmatis yang tengah dilakoni mereka.

"Langkah yang rasional saja yang dilakukan oleh elit-elit politik, apalagi kemudian dari kubu Jokowi sendiri kan membuka peluang untuk kubu oposisi untuk juga bergabung. Jadi ini juga soal perilaku elit yang pragmatis," tutur Hurriyah.

Perilaku pragmatis tersebut tak lepas dari pembentukan koalisi yang tidak alami alias dipaksakan. Menurutnya, karena hanya ada dua kandidat capres-cawapres, maka partai politik mengambil langkah pragmatis dalam menentukan akan bergabung dengan koalisi yang mana.

Untuk itu, Hurriyah menilai tidak mengherankan bila kemudian ada partai yang kemudian dengan mudahnya berubah haluan.

Adi Prayitno menggambarkan sikap pragmatis tersebut dalam dua jenis rencana yang dimiliki setiap partai dalam menghadapi hasil pemilu.

"Ada Plan A dan Plan B. Plan A-nya sih tentu partai-partai ini berharap 02 menang, cuma sepertinya mulai nggak rasional kalkulasinya," beber Adi.

"Ya mereka bikin Plan B, sebagai jaring dan gejala gitu, bahwa mereka siapa tahu ada kemungkinan bisa menjadi dari pemerintah, terutama PAN dan Demokrat," sambungnya.

Sebelum pernyataan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera tentang "mengharamkan" #2019GantiPresiden Jumat (3/5) lalu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan juga sempat berbincang dengan Presiden Jokowi di Istana Negara pada Rabu (24/4) lalu.

Setelahnya, yaitu pada Kamis (2/5) lalu, Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga memenuhi undangan Presiden Jokowi untuk bertemu empat mata di Istana Merdeka, Jakarta.

(Qur'anul Hidayat)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya