Ketua Tim Pelaksana CoE Esthy Reko Astuty menerangkan, kebesaran Bali masa lampau menjadi semangat untuk membangun daerah.
“Publik di Bali memang luar biasa. Mereka sangat mengapresiasi berbagai warna budaya di sana. Angka pengunjung besar juga tersaji saat Pawai Pesta Kesenian Bali. Animo ini ternyata berlanjut pada malam hari di Taman Budaya. Rapor tersebut tentu menjadi start positif event secara keseluruhan. Apalagi, ada penyemangat dari cermin kebesaran Bali di masa lampau. Ini jadi semangat bagi daerah,” terang Esthy.
Cerita kisah oratorium kejayaan Bali masa lampau pun mencapai pucak. Pengakuan diberikan pun pada Dalem Waturenggong oleh Bharmana Keling. Gelar Dalem Sidha Karya yang awalnya ditolak, akhirnya diterima.
Esthy menambahkan, masyarakat Bali sangat menghormati para leluhurnya. Mereka ini selalu dikenang dan beragam tradisi dilestarikan.
“Bali memiliki banyak history besar. Semuanya tetap terpelihara dengan baik lintas generasi. Generasi-generasi selanjutnya sangat menghormati para leluhurnya. Dan, kebesaran Dalem Waturenggong ini bisa dinikmati hingga saat ini. Hanya kemasannya yang berbeda, tapi inti cerita dan alurnya otentik,” jelas Esthy lagi.
Dalem Waturenggong memimpin Bali pada abad ke-16. Tangan dinginnya mengantar era keemasan Kerajaan Gelgel Bali. Karya besarnya ekspansi politik hingga renovasi budaya. Para fase berikutnya, Dalem Waturenggong dijadikan prototype bagi pemimpin Bali berikutnya.