Jika merujuk pada analisa Idil, celah Partai Gerindra untuk berkoalisi dengan partai pemerintahan Jokowi lebih besar ketimbang tiga parpol oposisi lainnya. Meskipun, PAN dan Partai Demokrat sudah lebih dulu menjalin komunikasi dengan Jokowi.
"Kalau saya lihat siapa yang berpeluang, saya katakan Gerindra yang paling berpeluang," ujarnya.
Menurut Idil, ada kendala yang paling mendasar antara Ketum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri dengan Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk dapat berkoalisi. Walau bagaimanapun juga, kata Idil, Jokowi masih masuk kedalam bagian dari PDIP.
"Kendala pokok itu adalah hubungan kepartaian antara ketum PDIP dan Demokrat masih belum clear. Masih ada perang dingin antara Megawati dengan SBY. Dan itu agak sedikit sulit, karena bagaimana pun kita harus sadar bahwa Jokowi berasal dari PDI-P dan problem utama ketum menjadi salah satu pertimbangan untuk kenapa demorat agak sulit masuk," katanya.
Sementara PAN, ujar Idil, masih ada sosok di belakang layar yang menolak jika partai pimpinan Zulkifli Hasan tersebut berkoalisi dengan Jokowi. Sosok tersebut, dikatakan Idil, adalah Amien Rais. Kata Idil, Amien Rais merupakan sosok yang cukup berpengaruh di PAN.
"Dan sejauh ini, Amien Rais belum clear permasalahan dengan koalisi. Amien Rais masih kekeuh menolak PAN bergabung dengan Jokowi. Maka itu, juga saya kira masalah utama," ujarnya.
Sedangkan PKS, kata Idil, merupakan partai oposisi yang paling sulit untuk merapat ke pemerintahan Jokowi. Idil melihat ada perbedaan ideologi serta pemahaman antara PKS dengan koalisi Jokowi dalam membangun pemerintahan.
"Dan seringkali PKS dalam beberapa kasus juga termasuk partai yang sedikit liar dalam konteks berkoalisi. Jadi susah untuk dipegang. Karena mereka punya keputusan sendiri dalam mengambil keputusan," katanya.
Menurut Idil, Partai Gerindralah yang paling besar kemungkinannya bisa berkoalisi dengan pemerintahan Jokowi. Sebab, Partai Gerindra menganut ideologi yang mirip dengan sejumlah partai koalisi.
"Nah, Gerindra yang berpeluang besar. Dari sisi ideologi tidak masalah dengan koalisi. Mereka lebih menaruh pada kebangsaan bukan keagamaan. Kedua, faktor hubungan Prabowo dengan parpol di koalisi saya kira sebenarnya tidak masalah apapun, hanya perbedaannya pada capres saja. Selesai capres semuanya selesai," tuturnya.
(Arief Setyadi )