Dengan sejumlah track record tadi, Menpar Arief Yahya langsung diplot tampil sebagai pembicara kunci. Semua potensi dan kehebtan Wonderful Indonesia, bakalnikut dibicarakan di forum. "Semua kriteria baik, versi TTCI – Travel and Tourism Competitiveness Index dengan 14 sub pilar itu kita garap dengan serius. Indikatornya selalu menggunakan Global Standart supaya Kalau bisa menjadi Global Player," ujar Menpar Arief Yahya.
Di TTCI itu juga tergambar, bahwa komitmen pemerintah dinilai sangat tinggi. “Iya, 4 tahun berturut-turut Pariwisata menjadi Leading Sector itu sudah menunjukkan bahwa keseriusan Pak Presiden Jokowi dalam menjadikan Pariwisata sebagai lokomotif ekonomi Indonesia ke depan, sangat serius dan tegas. Itu punya bobot penilaian yang tinggi di mata dunia,” kata Menpar Arief yang mantan Dirut Telkom dan pernah menjadi CEO BUMN Terbaik itu.
Ada tone optimisme. Keyakinaan baru. Maklum, semua sisi terlihat sangat bagus. Dari sisi penerimaan devisa pariwisata pun meroket tajam. Pada 2016, devisa pariwisata mencapai US$ 13,5 miliar, hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO) sebesar US$ 15,9 miliar. Tahun 2015 lalu, pariwisata masih ada di peringkat keempat sebagai sektor penyumbang devisa terbesar.
Di tahun 2017 dan 2018, sumbangan devisa dari sektor pariwisata naik lagi dan tahun lalu tembus 16,11 M dollar AS. Sektor pariwisata Indonesia sendiri diproyeksikan mampu menjadi penyumbang devisa tertinggi di tahun 2019. Itu artinya, pariwisata bisa menghasilkan sekitar Rp 280 triliun bagi devisa negara. Juga, menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019.
(Fahmi Firdaus )