“Proses pewarnaan tenun selalu dilakukan dengan cara tradisional. Hal ini tentu menjadi value lain dari tenun-tenun tersebut. Terkait pewarnaan juga dilakukan sesuai fungsi dari tenunnya. Sebab, tenun dan warnanya biasanya disesuaikan dengan beragam upacara juga tradisi di TTU,” tegas Ricky lagi.
Pewarnaan tenun memang didasarkan atas peruntukannya. Untuk warna ungu biasanya digunakan di dalam upacara duka. Pada upacara adat, pengunjung biasanya memakai tenun dengan warna hitam. Warna-warni pesta kegembiraan (pernikahan) lalu direpresentasikan dengan tenun warna merah, hijau, kuning, juga warna cerah lainnya.
Motif Buna diberi label tertinggi. Harganya mencapai Rp2 Juta per lembang. Selain proses produksinya yang rumit, durasi pembuatan tenun tersebut 6 bulan hingga 1 tahun.
Bahan baku benang pembuatnya juga diklaim lebih banyak. Pangsa pasar tenun Buna ini menengah atas. Karena pasarnya yang eksklusif, motif Buna baru dibuat bila ada pesanan dari pasar.
“Motif tenun khas TTU semakin memperkaya Indonesia sebagai destinasi wisata dunia. Coraknya khas dengan keberagaman filosofi yang menyertainya. Kami berharap keberadaan tenun Sotis, Ikat, dan Buna khas TTU semakin melengkapi experience saat berkunjung ke Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN.
(Fahmi Firdaus )