Memperlancar Akses Jalur Evakuasi
Jalur evakuasi untuk memperlancar akses jalan menuju titik kumpul masyarakat di RT 16 RT 04 kelurahan Padang Serai kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. Ketika terjadi bencana alam, gempa berdampak tsunami.
Selain itu, jalur tersebut juga memperlancar akses masyarakat setempat menuju ke pusat kota lebih cepat. Di mana jalur tersebut terhubung ke RT 19 kelurahan Sumber Jaya kecamatan Kampung Melayu serta kelurahan Bumi Ayu kecamatan Selebar Kota Bengkulu.
Komandan Kodim (Dandim) 0407/Bengkulu, Letkol Arm Yose Rizal mengatakan, sebelumnya jalur evakuasi tersebut sudah ada. Hanya saja, akses tersebut masih dalam keadaan buruk dan belum di koral. Sehingga sulit untuk di lintasi masyarakat setempat.
Jalur yang di bangun melalui TMMD ke 105 itu, terang Yose, merupakan jalur logistik atau jalur untuk masuknya logistik dari kota Bengkulu ketika terjadi bencana. sekaligus jalur evakuasi masyarakat menuju ke titik kumpul yang ada di RT 16 RW 04.
Selain mengoral jalan sepanjang 1,3 Km, lanjut Yose, prajurit TNI-AD juga membangun 3 jembatan di daerah tersebut. Bahkan, prajurit TNI- AD merehap tiga sarana ibadah di lokasi RT 16 RW 04 kelurahan Padang Serai.
''Setidaknya akses menuju ke sana menjadi lancar. Itu juga menjadi jalur masuknya logistik ke lokasi pengungsian ketika bencana terjadi,'' kata Yose, kepada okezone, Senin 12 Agustus 2019.
BMKG Bangun Lima Shelter InaTEWS dan CCTV
Potensi gempa diiringi gelombang tsunmai di daerah yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini tentu menjadi perhatian segala pihak pemerintah. Dari BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, membangun lima shelter penjaringan perapatan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).
Shelter InaTEWS di bangun diempat daerah di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. Dari perbatasan Bengkulu - Sumatera Barat hingga perbatasan Bengkulu - Lampung. Seperti, di kabupaten Mukomuko, Bengkulu Utara, Seluma dan kabupaten Kaur.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kepahiang Bengkulu, Litman mengatakan, Shelter InaTEWS dilengkapi seismograf atau alat untuk mengukur gempa atau getaran yang terjadi pada permukaan bumi.
Pemasangan seismograf tersebut, sampai Litman, di Mukomuko di bangun satu unit bangunan shelter. Tepatnya, kawasan rumah karyawan PT. Agro Muko di kecamatan Air Dikit.
Di Bengkulu Utara di bangun dua unit, di desa Padang Jaya dan desa Marga Sakti Kecamatan Padang Jaya. Lalu, di kantor camat Ulu Talo kabupaten Seluma, satu unit. Di desa Bukit Makmur kecamatan Muara Sahung kabupaten Kaur, di bangun satu unit shelter.
Bangunan shelter, terang Litman, secara keseluruhan menggunakan lahan dari pemerintah dan swasta. Bangunan setiap shelter tersebut berukuran 4x4 meter. Selain Seismograf, nantinya di shelter juga terdapat satu unit antena parabola.
''Pembangunan shelter InaTEWS di Bengkulu akan di bangunan tahun ini (2019). Saat ini sedang dalam proses. Ditargetkan pada November 2019, bangunan serta perlengkapan dan peralatan sudah siap,'' kata Litman.
Tidak hanya shelter, lanjut Litman, BMKG juga akan memasang satu unit kamera Closed-circuit television (CCTV) pemantau gelombang tsunami di kabupaten Mukomuko. Persisnya di areal pos TNI-AL Mukomuko.
Alat seismograf maupun CCTV yang terpasang tersebut nantinya terkoneksi dengan BMKG Pusat. Hal tersebut untuk mengetahui secara langsung ketika gempa yang berdampak tsunami melanda di wilayah Bengkulu.
''Satu CCTV di pasang di daerah Mukomuko. CCTV itu itu untuk memantau ketika gempa berpotensi tsunami terjadi di Mukomuko,'' terang Litman.