JAKARTA - Sebanyak 182 orang meninggal dunia akibat kasus konflik kekerasan yang terjadi di Kabupaten Nduga, Papua yang terjadi sejak 2 Desember 2018 hingga sekarang.
Hal itu disampaikan oleh salah satu tim kemanusiaan, yaitu Theo Hesegem dalam diskusi selaku Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua.
Lebih lanjut, Theo menjelaskan kalau terdapat 2 korban lainnya yang diantaranya satu orang yang masih hidup. Ia sendiri merupakan korban penyiksaam dan mengalami perampasan harta benda.
Sedangkan satu orang lagi, Theo menyebutkan terdapat seorang anak bayi yang disandra. Maka dari itu, pihaknya belum mengetahui apakah anak tersebut masih hidup atau tidak. Namun mereka menduga masih dalam keadaan hidup.
"1 masih hidup, dan 1 diduga masih hidup anak kecil umur 1 tahun. Itu sedang ditahan, itu belum masuk ketagori meninggal, tapi diduga masih hidup," ujar Theo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).
"Tapi kami belum tahu, ini dari Juli yang lalu. Jadi saya tidak yakin anak ini masih hidup, bisa saja dibunuh. Tapi harapan kami anak ini masih hidup," lanjutnya.
Baca Juga: Briptu Hedar Tewas Ditangan KKSB Papua, JK: Serang Balik!
Korban meninggal dunia di Kabupaten Nduga dengan rinciannya hingga 18 Juli 2019, sebagai berikut;
Korban perempuan dewasa meninggal 21 orang
Korban laki-laki dewasa meninggal 69 orang
Korban anak perempian meninggal 21 orang
Korban anak laki-laki meninggal 20 orang
Korban balita perempuan meninggal 14 orang
Korban balita laki-laki meninggal 12 orang
Korban bayi laki-laki meninggal 8 orang
Korban bayi perempuan meninggal 17 orang.
Sekadar diketahui, konflik kekerasan di Nduga berawal dari pembantaian terhadap karyawan PT. Istaka Karya, Gunung Kabo. Kejadian itu pun melebar hingga terjadi penembakan terhadap puluhan TNI oleh Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB) ataupun Organisasi Papua Merdeka (OPM).
(Edi Hidayat)