MINAHASA - Monumen yang terletak di jalan raya Kawangkoan - Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara ini diresmikan 30 November 1987 oleh Gubernur Sulut saat itu, CJ Rantung. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa-jasa perjuangan Bernard Wilhelm Lapian (B.W Lapian) dan Charles Choesoy Taulu (Ch. Ch Taulu) pada peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.
Namun sayangnya, perjuangan para terdahulu di peristiwa Merah Putih tersebut seakan terlupakan. kondisi monumen ketika disambangi okezone sangat memprihatinkan. Tak terurus dan ditumbuhi rerumputan.
Padahal, di kawasan monumen ini dibangun tempat duduk yang bisa untuk bersantai. Jika kondisinya baik, tempat ini bisa dijadikan tempat bersantai menikmati hawa sejuk di Minahasa.
Letaknya pun cukup strategis, di pinggir jalan raya dan dekat dengan pusat kota Kawangkoan. Kondisi monumen yang memprihatinkan ini diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
BW Lapian dan CH Taulu merupakan pemimpin perjuangan RI di Minahasa. Keduanya merupakan tokoh penting peristiwa Merah Putih. Latar belakang peristiwa tersebut terjadi ketika provokasi Belanda terhadap dunia luar yang menyebut Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 hanyalah gertakan segelintir orang di pulau Jawa.
Dampak negatif dari provokasi tersebut dirasakan LN Palar, yang saat itu sebagai Duta Besar Pertama RI di PBB, yang sedang berjuang di PBB untuk mendapatkan dukungan PBB dan Negara-negara anggota PBB.
Palar kemudian mengontak para pejuang di Manado, meminta mereka melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bangkitnya keberanian warga Minahasa untuk merebut kekuasaan dari tangan Belanda juga semakin terdorong ketika mereka membaca pesan rahasia dari Pahlawan Nasional Dr Sam Ratulangi yang saat itu sebagai Gubernur Sulawesi di Makassar.
Sam Ratulangi meminta tentara KNIL, asal Minahasa yang pro RI segera melakukan aksi militer di tangsi KNIL (Sekarang Markas Pomdam XIII/Merdeka) di Teling Manado. Surat rahasia itu kemudian dibawa ke BW Lapian yang adalah seorang politisi dan CH Taulu yang merupakan tokoh militer.
Sejumlah tentara KNIL dan tokoh masyarakat maupun politisi Minahasa yang pro RI langsung merancang perebutan tangsi tentara KNIL tersebut. Peristiwa itu direalisasikan para pejuang pada tanggal 14 Februari 1946 dinihari.
Seluruh pimpinan teras tentara di tangsi itu, termasuk seluruh pimpinan Garnizun Kota Manado yang juga bermarkas di tangsi ditangkap dan disel. Peristiwa itu berlangsung mulai pukul 01.00 hingga 05.00 Wita.
Tepat pukul 03.00 Wita, para pejuang menurunkan bendera Kerajaan Belanda Merah Putih Biru. Merobek warna birunya dan menaikkan kembali warna Merah Putih ke puncak tiang bendera di markas tentara yang disebut-sebut angker karena dihuni pasukan KNIL pasukan berani mati, andalan Belanda.