Kisah Pelaut Swedia yang Menjadi Raja di Pulau Tabar, Papua Nugini

Rahman Asmardika, Jurnalis
Selasa 03 September 2019 08:01 WIB
Share :

PADA awal abad ke-20, surat kabar dipenuhi dengan berita mengenai seorang pria Swedia yang menjadi Raja di Pulau Tabar, bagian dari Papua Nugini. Kisah kehidupan pria itu menjadi perhatian dan dikabarkan dengan berbagai cerita, baik yang realistis mau pun yang mirip dengan dongeng.

Carl Petterson adalah seorang pria Swedia yang mengarungi laut lepas sejak berusia 17 tahun. Setelah berkarier selama enam tahun di laut, pada 1898 ia akhirnya bekerja di sebuah perusahaan dagang Jerman Neuguinea-Compagnie yang berkantor pusat di Kokopo, Papua Nugini, sehingga dia harus melakukan perjalanan ke belahan dunia lain.

Pada Natal, pada 1904, dalam perjalanan ke tempat kerjanya, kapal yang ditumpangi Petterson tenggelam di Samudra Pasifik, dekat dengan Pulau Tabar.

Penduduk asli Pulau Tabar adalah kanibal, dan dari sudut pandang mereka, Petterson yang terdampar di pantai tampak seperti makanan. Petterson segera dikelilingi oleh penduduk pulau yang penasaran, yang mungkin sudah siap untuk membunuhnya atau memakannya,

Tetapi, mereka kagum dengan mata Petterson yang berwarna biru, karena mereka belum pernah melihatnya sebelumnya.

Carl Patterson pada 1890.

Jadi penduduk pulau membiarkan Petterson hidup. Dia kuat, menawan, dan tampan, dan segera putri raja pulau jatuh cinta padanya. Setelah tiga tahun, pada 1907, Petterson menikah dengan Putri Singdo, putri Raja Lamy. Dia terlibat dalam perdagangan kopra dan kemudian mendirikan perkebunan kelapa sendiri yang dia sebut Teripax.

Setelah kematian Raja Lamy, Petterson menjadi raja pulau itu. Di antara bangsanya dia dikenal sebagai "Charley si Kuat" dan dia memang memiliki kondisi fisik yang bagus.

Petterson berhasil dalam bisnisnya dan bahagia dalam pernikahannya. Dia memiliki delapan anak dengan Singdo, mengembangkan perkebunannya, dan memperlakukan pekerjanya dengan baik. Orang-orang dari pulau menyukainya dan menghormatinya.

Sayangnya, istrinya meninggal pada 1921 karena demam nifas. Kejadian itu membuat Patterson mengambil berbagai keputusan yang salah dan perlahan membawanya ke kejatuhannya.

Dia kembali ke Swedia pada 1922 dan bertemu Jessie Louisa Simpson, yang kemudian dia bawa ke Pulau Tabar dan dinikahinya di sana pada 1923. Namun, selama ketidakhadirannya di pulau, perkebunan Patterson menurun, dia hampir bangkrut, dan dia dan istrinya menderita malaria.

Patterson bersama Singdo dan keluarganya.

Patterson mengalami kesulitan untuk bangkit kembali, tetapi entah bagaimana ia berhasil menemukan deposit emas di Pulau Simberi. Istrinya mencoba mencari pengobatan, mulanya di Australia dan kemudian di Swedia, tetapi ia meninggal karena malaria dan kanker di Stockholm pada 1935.

Pada tahun yang sama Petterson meninggalkan Tabar, tetapi ia meninggal di Sydney dua tahun kemudian karena serangan jantung.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya