JOHANNESBURG – Kepolisian Afrika Selatan telah menangkap sedikitnya 300 orang pasca kerusuhan yang menargetkan warga asing di sejumlah kota negara itu.
Gelombang kekerasan di Afrika Selatan bermula sejak pekan lalu di Pretoria, ibu kota administrasi negara itu setelah seorang sopir taksi dilaporkan ditembak mati oleh seorang pengedar narkoba yang diduga merupakan warga negara asing.
Meskipun terjadi penurunan dalam kekerasan, Afrika Selatan tetap meningkatkan keamanan setelah serangan menyasar sejumlah toko-toko milik warga asing di Johannesburg, yang memicu pembalasan terhadap bisnis warga Afrika Selatan di kota-kota Nigeria.
Meskipun terjadi penurunan dalam kekerasan, ketegangan meningkat di bidang diplomatik, karena Nigeria menyatakan akan memboikot bisnis warga Afrika Selatan.
Korban tewas naik menjadi tujuh setelah dua mayat hangus ditemukan di sebuah toko di kota Alexandra dan Johannesburg, kata polisi.
Laporan AFP yang dikutip Okezone, Kamis (5/9/2019) menyebutkan kota Johannesburg dan Alexandra tetap tenang, polisi juga meningkatkan patroli setelah dua hari penjarahan.
Beberapa toko kembali dibuka, sementara sejumlah penduduk menyisir di sekitar toko yang rusak untuk mencari makanan atau apa pun yang dapat mereka digunakan.
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengecam kekerasan terhadap warga asing dengan.
"Sejumlah orang main hukum sendiri," katanya di Cape Town, menjelang pertemuan tiga hari Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang akan dihadiri oleh lebih pemimpin Afrika.
"Mengambil tindakan terhadap orang-orang dari negara lain adalah tidak benar," katanya. "Afrika Selatan adalah rumah bagi kita semua," lanjutnya.