Akui Kondisi Darurat
Di sisi lain, Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Walhi Wahyu Perdana mengatakan hal terpenting saat ini adalah pengakuan Indonesia bahwa kondisi sekrang sudah darurat.
"Setelah itu baru bisa menentukan apakah Indonesia butuh bantuan negara lain atau tidak. Kan enggak mungkin secara regulasi kita minta atau menerima (bantuan) tanpa kita menyatakan kondisinya sudah cukup darurat," katanya.
Baca juga: Pendidikan di Jambi Lumpuh, Kini Giliran Mahasiswa Diliburkan
Wahyu mengatakan, meski efek asap kebarakan sudah membuat kualitas udara di sejumlah daerah melebihi batas normal, pemerintah cenderung memungkiri situasi darurat tersebut.
Seharusnya, kata dia, pemerintah melihat solusi mitigasi dampak kebakaran hutan tidak sebatas pemadaman, tapi kemampuan tanggap darurat dalam menangani dampak bencana.
"Misalnya, seberapa besar jangkauan kita terhadap semua korban asap, baik penyediaan rumah sakit dan penggratisan (layanan kesehatan)," ujarnya.
Baca juga: Soal Pencopotan Personel karena Karhutla, Polri Mengaku Masih Evaluasi
Sementara itu, keengganan Indonesia menerima bantuan negara lain dikritik warga Malaysia.
"Mereka punya masalah yang lebih besar daripada yang bisa mereka tangani. Negara tetangga menawarkan bantuan dan Anda mengatakan tidak menginginkannya."
"Jadi saya pikir ada sedikit rasa kebanggaan nasional yang salah di sini dan saya pikir ini adalah situasi 'di mana semua harus terlibat'. Kita bersatu. Itulah ASEAN," kata Nithi Nesadurai, presiden Perkumpulan Perlindungan Lingkungan Malaysia, seperti dikutip dari Reuters.
(Hantoro)