CIREBON - Taman (41) sangat terkejut ketika mendengar kabar adiknya, Wartono (29) meninggal dunia setelah menjadi korban ambruknya jembatan di Nanfangao, Yilan, Taiwan pada Selasa, 1 Oktober sekira pukul 09.30 waktu setempat.
Di kediamannya di Desa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Taman sempat menceritakan rencana Wartono yang belum terwujud hingga akhir hayatnya, yakni merenovasi rumah orangtuanya. Rumah tersebut terletak tidak jauh dari kediaman Taman.
Kondisi rumah peninggalan orangtua mereka memang sangat memprihatinkan. Nampak beberapa bagian temboknya jebol dan kayunya sudah mulai lapuk. Taman sendiri mengaku tidak berani untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Ia khawatir jika nanti rumah itu bisa saja ambruk secara tiba-tiba.
"Dia punya keinginan untuk bangun rumah orangtua. Dia enggak pernah kirim ke sini. Dia selalu menyimpan gajinya," ungkap Taman saat ditemui Okezone, Jumat (4/10/2019).
Baca Juga: Keluarga Harap Jenazah WNI Korban Jembatan Ambruk di Taiwan Segera Dipulangkan
Taman menjelaskan, Wartono merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Mendiang kedua orangtuanya yang bernama Dakina dan Ruwenda dulu bekerja sebagai petani. Ia mengungkapkan, sejumlah anggota keluarganya sempat merasakan firasat, sebelum Wartanto menjadi korban ambruknya jembatan di Nanfangao, Yilan, Taiwan.
"Dia anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Rata-rata saudara saya bekerja di luar negeri. Kita sempat merasakan firasat itu, bahkan istri saya juga merasakan" sambungnya.
Menurut penuturan Taman, saat kejadian Wartanto sedang beristirahat di kapal ikan tempatnya bekerja. Ketika itu, kapalnya memang sedang bersandar di sekitar jembatan untuk mengisi bahan bakar.