Mahasiswi Sejarah Ninja Tulis Esai dengan Tinta Tak Terlihat

Rachmat Fahzry, Jurnalis
Jum'at 11 Oktober 2019 19:13 WIB
Eimi Haga menggunakan teknik aburidashi untuk menulis esai. (Foto/BBC)
Share :

TSU – Seorang mahasiswi yang mempelajari sejarah ninja mendapatkan nilai tertinggi setelah menyerahkan kertas kosong, namun profesornya menyadari esai itu ditulis dengan tinta yang tak terlihat.

Nama mahasiswi itu Eimi Haga menggunakan teknik ninja yang disebut "aburidashi". Ia menghabiskan berjam-jam untuk merendam dan menghancurkan kacang kedelai demi membuat tinta.

Tinta bisa terbaca setelah dosennya memanaskan kertas ujian Haga di atas kompor gas.

"Ini adalah sesuatu yang saya pelajari melalui sebuah buku ketika saya masih kecil," Ms Haga mengutip BBC, Jumat (11/10/2019). "Aku berharap tidak ada [mahasiswa] berpikir dengan dengan ide yang sama."

Baca juga: Ingat 1.300 Nomor Kartu Kredit, Kasir Toko Foya-Foya Beli Barang Mewah

Baca juga: Cerita Pria Jepang yang Menikahi Karakter Animasi

Haga telah tertarik pada ninja—agen rahasia dan pembunuh di Jepang abad pertengahan—sejak menonton acara TV animasi sejak kecil.

Setelah mendaftar di Universitas Mie di Jepang, Haga mengambil kelas sejarah ninja, dan diminta untuk menulis laporan saat kunjungan ke Museum Ninja Igaryu.

"Ketika profesor mengatakan di kelas bahwa dia akan memberi nilai tinggi untuk kreativitas, saya memutuskan bahwa saya akan membuat esai saya berbeda dari yang lain," katanya.

"Aku berpikir sejenak, dan menemukan ide aburidashi."

Haga merendam kedelai dalam semalam, menghancurkannya lalu meremasnya dengan kain.

Dia kemudian mencampur ekstrak kedelai dengan air. Perlu waktu dua jam untuk melakukan itu. Setelah mendapat intisari kedelai, ia menggunakannya ektrak untuk menulis esai. Esai ditulis dengan kuas halus pada "washi" (kertas Jepang tipis).

Setelah tinta kering, tulisannya tidak akan terlihat. Tapi, untuk memastikan dosennya tidak memasukkan esai ke tempat sampah, dia meninggalkan catatan dengan tinta normal yang bertuliskan "panaskan kertas".

Profesor itu, Yuji Yamada, mengatakan kepada BBC bahwa dia "terkejut" ketika dia melihat esai itu.

"Saya telah melihat laporan seperti itu ditulis dalam kode, tetapi tidak pernah melihat satu pun dilakukan di aburidashi," katanya.

"Sejujurnya, aku punya sedikit keraguan bahwa kata-kata itu akan keluar dengan jelas. Tapi ketika aku benar-benar memanaskan kertas di atas kompor gas di rumahku, kata-kata itu muncul dengan sangat jelas dan aku berpikir 'Bagus sekali!'

"Saya tidak ragu untuk memberikan nilai tertinggi pada laporan, meskipun saya tidak membacanya sampai akhir karena saya pikir saya harus membiarkan sebagian kertasnya tidak dipanaskan, kalau-kalau media entah bagaimana akan menemukan ini dan mengambil gambar."

Sedangkan untuk esai itu sendiri, Haga mengatakan ia lebih memilih gaya penulisan dibanding isi esainya.

"Saya yakin bahwa profesor setidaknya akan menghargai upaya saya untuk membuat esai kreatif," katanya.

"Jadi saya tidak terlalu khawatir mendapatkan nilai buruk untuk esai saya, meskipun isi esai tidak istimewa."

(Rachmat Fahzry)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya