TOKYO – Festival “pria telanjang” Jepang yang menarik ratusan peserta dan ribuan wisatawan setiap tahunnya, tidak akan lagi diadakan. Ini disebabkan krisis populasi di Jepang, yang menyebabkan penyelenggaraan festival berusia ribuan tahun itu menjadi beban berat bagi warga lokal yang semakin menua.
Ritual tahunan, yang menampilkan ratusan pria telanjang berebut sekantong jimat kayu, sambil menyanyikan "jasso, joyasa" (yang berarti "kejahatan, lenyaplah") di hutan dekat Kuil Kokuseki, wilayah Iwate, Jepang utara itu tidak akan lagi diselenggarakan.
Penyelenggaraan acara tersebut, yang menarik ratusan peserta dan ribuan wisatawan setiap tahunnya, telah menjadi beban berat bagi penduduk lanjut usia setempat, yang merasa kesulitan untuk mengikuti ketatnya ritual tersebut.
Toshiaki Kikuchi, seorang warga setempat yang mengaku memiliki jimat tersebut dan membantu menyelenggarakan festival tersebut selama bertahun-tahun, mengatakan dia berharap ritual tersebut akan kembali terjadi di masa depan.
“Meski dalam format berbeda, saya berharap tradisi ini tetap dipertahankan,” ujarnya usai festival, sebagaimana dilansir AFP.
“Ada banyak hal yang dapat Anda hargai hanya jika Anda ambil bagian.”
Banyak peserta dan pengunjung menyuarakan kesedihan dan pengertian atas berakhirnya festival.