Mengenal Anchorage, Tempat Hijrah Muslim Migran di AS

, Jurnalis
Minggu 13 Oktober 2019 07:03 WIB
Warga Kuwait Abu Yousif membeli sekaleng bir nonalkohol dari sebuah toko kelontong kecil di pusat kota Kuwait pada 20 April. (Foto : Reuters)
Share :

KOMUNITAS muslim di Anchorage kian berkembang. Banyak migran muslim dari berbagai penjuru dunia hijrah dan menemukan kedamaian di sana. Apa tantangan hidup muslim di kota terbesar di Alaska?

Anchorage terletak di Alaska, Amerika Serikat, kira-kira berjarak 10 ribu kilometer dari Makkah, Arab Saudi. Namun, kota ini semakin menarik perhatian banyak muslim dari berbagai penjuru dunia.

Banyak migran muslim hijrah ke sana dan menemukan kedamaian di wilayah yang dulunya milik Rusia dan dibeli Amerika itu. Berbagai komunitas muslim terbentuk, dan kini di kota itu, warga muslim bisa menemukan toko kelontong barang-barang kebutuhan sehari-hari yang halal, restoran halal, bahkan masjid.

Jumlah warga muslim di Anchorage saat ini memang belum begitu besar. Jika pada 2014 tercatat ada 3.000 warga pemeluk Islam di kota itu, pada akhir 2018 jumlahnya diperkirakan hampir mencapai 4.000 orang.

Wakil Direktur Pusat Komunitas Islam Anchorage, Sam Obeidi mengatakan. komunitas muslim di Anchorage, merupakan salah satu komunitas yang paling fleksibel di AS. Menurutnya, ini karena keberagaman etnis dalam komunitas itu.

Di banyak kota lain di AS, kebanyakan masjid terkait dengan satu kelompok etnis, namun tidak demikian halnya di Anchorage. Karena kecilnya komunitas muslim, kegiatan salat Jumat, contohnya, diikuti warga dengan berbagai latar belakang etnis.

“Di sini ada orang-orang Arab, orang-orang Gambia, Pakistan, India, Myanmar, Albania, Somalia, Sudan, Mesir, Palestina, Irak, Bangladesh, Myanmar, Rusia, Malaysia, dan bahkan Indonesia," kata Obeidi, mengutip VOA Indonesia.

Islamic Community Center Anchorage Alaska—demikian masjid itu dinamakan—terletak di sebuah kawasan bisnis, dan bertetangga dengan gereja Presbiterian Korea, sejumlah bengkel mobil, dan restoran. Tidak heran, ketika berada di masjid itu, terdengar beragam bahasa. Kondisi ini sama persis seperti halnya sekolah-sekolah di Anchorage, di mana lebih dari 100 bahasa terdengar sehari-hari.

Menurut Obeidi, Anchorage menarik perhatian banyak muslim, terutama karena pertimbangan ekonomi. Ekonomi Alaska konon tidak terpengaruh resesi. Selain itu, karena program penempatan pengungsi yang digelar pemerintah. Lebih dari setengah populasi Anchorage adalah orang Eropa, sementara sisanya adalah Asia, Afrika, hispanik dan penduduk asli Alaska.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya