Sementara itu, aktivis Demokrasi Maruarar Sirait mengajak generasi muda untuk memilih sosok pemimpin miritokrasi, dengan ciri berintegritas, bijak dan idealis. Jangan terjebak pada calon pemimpin feodal.
"Calon bukan dari keluarga darah biru agar masa depan menjadi harapan bersama. itu harus ditanamkan di Indonesia. Tidak mudah menjaga idealisme di tengah kebutuhan ekonomi keluarga. Bagaimana menjaga idealisme tapi kebutuhan ekonomi juga harus dijaga," katanya.
Anggota DPR Doli Kurnia yang hadir dalam diskusi menyoroti, persoalan era distrupsi. Menurutnya, era distrupsi harus dicermati seksama karena bisa berdampak negatif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Harus kita cermati era distrupsi itu karena bukan hanya hal-hal teknis, tapi juga bisa mengganti hal-hal mendasar seperti kebudayaan dan ideologi. Ideologi Pancasila berganti pada ideologi liberal," tuturnya.
Dampak lainnya bisa menyasar pada persoalan agama dan kepercayaan. Contohnya, marak sel-sel dan kelompok-kelompok terorisme dengan sentimen terhadap agama tertentu.
"Islam pun mengalami penyimpangan-penyimpangan. Padahal, Islam itu sebagai rahmatan lil alamin. Tap kenyataannya sekarang ada terorisme, LGBT, seks bebas. Ini sudah mengarah pada yang ekstrem. Sangat membahayakan kehidupan bangsa kita. Pergerakan ke arah ekstrem itu dampaknya kepada anak-anak muda," tuturnya.
(Arief Setyadi )