“Problem pertanian biasanya terkait ketersediaan benih, pupuk, pengolahan, pasca panen serta pasar. Dengan adanya HPS ini mengingatkan bahwa dulu pertanian dilakukan secara manual, sekarang pakai mekanisasi. Tanam jagung ada teknologinya, sebar pupuk bisa dengan drone. Hadirnya generasi muda, lahan 5 hektar bisa dikerjakan hanya dengan dua orang saja,” papar Winarno.
Dalam kegiatan HPS ini diharapkan timbul kesadaran untuk menghasilkan produk yang aman konsumsi. Petani tidak lagi bergantung pada pestisida dan memilih budidaya ramah lingkungan. Masyarakat juga mampu mengubah pola pikir untuk tidak menyianyiakan makanan dan beralih ke diversifikasi pangan. Menjadi lumbung pangan dunia bukan hal mustahil. Indonesia kaya potensi alam dan diversifikasi pangan.
“Buang _mindset_ bahwa sagu hanya menjadi masakan orang timur. Menurut Anton, bicara lumbung pangan dunia, jangan hanya berbicara beras. Ada sagu, ubi, jagung bahkan sukun. Nanti di HPS akan disajikan aneka olahan sagu menjadi berbagai jenis olahan panganan. Dari berbagai segi kesehatan, sagu lebih baik dari nasi.
"Melalui HPS ke 39 tahun 2019 ini, marilah kita bangun kepedulian dan kesadaran kita untuk mengelola dan pemanfaatkan pangan secara efektif dan efisien sesuai tema HPS tahun ini," harapan Anton. (adv)
(Risna Nur Rahayu)