“Yang kita harapkan, pengembangan ekowisata ini bisa berdampak nyata terhadap peningkatan ekonomi daerah dan masyarakat. Selain tentunya bisa membantu pencapaian terget kunjungan wisatawan yang dibebankan pemerintah,” katanya.
Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan (PWAB) Kemenparekraf, Alexander Reyaan menambahkan, kegiatan ini bertujuan untuk membagi pengetahuan tentang produk ekowisata, dan memberikan masukan untuk perbaikan pola perjalanan kepada tour operator.
“Sudah tentu, goal-nya meningkatkan jumlah kunjungan ekowisata ke Indonesia,” katanya.
Kegiatan Famtrip ini dilatarbelakangi oleh moment penting yang terjadi Pada tahun 2018. Saat itu Kementerian Pariwisata melalui Asdep Pengembangan Wisata Alam dan Buatan bekerjasama dengan INDECON (Indonesia Ecotourism Network) dan EJEF (East Java Ecotourism Forum) telah menginisiasi pengembangan klaster destinasi ekowisata di wilayah Jawa Timur dan Bali Barat.
Kerjasama itu menghubungkan 6 kawasan konservasi yaitu: TN Bromo Tengger Semeru, TN Meru Betiri, TN Alas Purwo, TWA Kawah Ijen dan TN Baluran plus TN Bali Barat. Sebagai tindak lanjut, Asdep WAB menyelenggarakan Ecotourism Tour Operator Forum untuk memperkenalkan kluster Jawa Timur sebagai pola perjalanan ekowisata. (adv) (Wil)
(Risna Nur Rahayu)