Percobaan demi percobaan dilakukan Kementerian Pertanian bersama lembaga penelitian dan perguruan tinggi untuk meyakinkan bahwa Tegal memang potensial untuk pengembangan bawang putih. Melalui APBN, pemerintah menggelontorkan sejumlah bantuan untuk mendorong perluasan tanam dan produksi bawang putih. Tak hanya itu, Tegal juga dipilih sebagai lokasi kemitraan importir dan petani.
Kolaborasi apik antara pusat (Kemtan-red), Pemda, Bank Indonesia, petani hingga importir mampu menjadikan Tegal bangkit kembali menjadi sentra utama bawang putih nasional. Bersaing dengan Sembalun dan Bima di NTB, Temanggung, Magelang dan Karanganyar di Jawa Tengah, dan Malang di Jawa Timur.
Tidak hanya itu, program kemitraan tanam dan produksi antara importir bawang putih dan petani yang digagas Kementerian Pertanian ternyata mampu memberi keuntungan yang tidak sedikit bagi petani. Gudang-gudang benih yang tadinya kosongpun kini mulai terisi, petanipun bergairah untuk bertanam dan bermitra, investasi terus berdatangan memacu kinerja ekonomi daerah. Yang menggembirakan lagi, generasi petani muda Tegal perlahan tapi pasti banyak yang memilih pulang kampung untuk kembali terjun ke ladang berbudidaya bawang putih!
Jitranto dan istri, petani desa Tuwel Kecamatan Bojong yang sempat merantau ke Jakarta menceritakan keputusannya untuk kembali ke Tegal menjadi petani bawang putih. Anto, panggilan petani milenial ini mengisahkan pada tahun 1998 keluarganya terpaksa diboyong merantau ke Jakarta dengan baju seadanya yang melekat di badan.
"Kami tidak punya apa-apa sejak bawang putih tegal porak poranda akibat impor. Orang tua kami mengalami kerugian besar karena bawang putih. Sejak 2015 kami sekeluarga kembali dan ikut program pemerintah. Alhamdulillah, perlahan tapi pasti mulai ada hasilnya. Tahun ini saya dan istri bahkan orang tua kami bisa daftar ONH plus" terang Anto sumringah.
Bersama dengan 18 orang petani bawang di desa lain, anto dan istri mendaftar haji dari hasil bawang putih. "Sungguh berkah luar biasa" ungkap anto terharu.