Toko Roti Ini Jadi Simbol Keharmonisan Antar-Agama di AS

Agregasi VOA, Jurnalis
Minggu 24 November 2019 19:04 WIB
Toko kue Dejan Zivanovic di Washington DC (VOA)
Share :

SEBUAH toko roti yang terletak di pinggiran Long Island, New York, Amerika Serikat, dianggap sebagai simbol keharmonisan antar-agama oleh penduduk dan media setempat. Pemiliknya adalah seorang warga Amerika keturunan Pakistan.

Ketika pemilik Beach Bakery Grand Café sebelumnya memutuskan menjual toko roti itu beberapa tahun lalu, berita itu mengkhawatirkan warga Westhampton Beach yang sebagian besar dihuni oleh warga Yahudi. Ini dikarenakan toko roti itu telah melayani kebutuhan makanan mereka selama hampir tiga puluh tahun.

“Keluarga saya hanya makan makanan kosher (makanan yang disiapkan dengan mengikuti tata cara/adat istiadat Yahudi). Kami menyukai toko roti ini karena tidak ada lagi toko makanan kosher di daerah ini," kata seorang pelanggan, Eva Lubeck seperti dilaporkan VOA, Minggu (24/11/2019).

Komunitas Yahudi itu khawatir jika pemilik baru akan tetap mempertahankan atau mematuhi tata cara menyediakan makanan ala Yahudi itu atau tidak.

Ilustrasi

Tetapi Rashid Sulehri yang membeli Beach Bakery and Grand Café itu pada 2018 menepis keraguan itu dengan melangsungkan pertemuan bersama warga komunitas Yahudi dan memastikan bahwa ia tetap mempertahankan tata cara itu.

“Saya menyampaikan pidato di sinagog lokal di sana. Sekitar 800 anggota komunitas itu datang dan mendengarkan apa yang saya sampaikan. Pidato itu juga disiarkan secara langsung pada hampir 4,1 juta penonton. Kami memiliki sertifikat kosher dan siapa pun dapat datang, melihat langsung apakah kami kosher atau tidak," kata Rashid.

Sementara Rashid mempertahankan kosher di toko roti itu dengan mematuhi Kashrut (aturan hukum Yahudi tentang kesesuaian makanan, penggunaan benda-benda ritual dan lainnya), ia juga memastikan agar persiapan makanan memenuhi standar halal sesuai keyakinan agama Islam yang dianutnya.

“Perbedaan utama antara makanan kosher dan halal adalah pada cara menangani dan mempersiapkan daging. Jadi kami memutuskan untuk menghilangkan penggunaan daging dari daftar menu kami. Jadi jika kita tidak menyajikan daging, produk susu dan produk vegetarian, selama memenuhi persyaratan kosher maka makanan itu secara otomatis halal. Hal menantang lainnya adalah soal minuman beralkohol. Jadi kami juga memutuskan tidak menyajikan alkohol," kata Rashid.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya