Selain itu, Dedi berpendapat bahwa Airlangga tidak mampu mengonsolidasikan kekuatan partai. Lantaran, kata dia, sifat Airlangga juga elitis sehingga tak bisa menyatu dengan akar rumput.
Kemudian, Airlangga juga menduduki jabatan strategis pemerintahan sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Dua hal itu akan membawa Golkar ke arah yang gelap.
"Secara tidak langsung, Golkar punya potensi tertinggal kembali di 2024, dan Parpol lain yang mengincar posisi puncak, seperti PDIP dan NasDem, lebih leluasa untuk menyingkirkan Golkar," tutur dia.
Baca juga: Golkar Dikhawatirkan Pecah Pasca-Munas
Oleh karena itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) itu mendorong Airlangga untuk memimpin kementerian dan meninggalkan partai politik. Dengan begitu, urusan perekonomian negara berjalan lancar dan peningkatan elektabilitas Golkar bisa terealisasi.
"Jika orientasinya untuk mengembalikan kejayaan Golkar, baiknya Airlangga tetap di kementerian, biarkan Golkar memilih ketum baru," ucap Dedi.