Etnis Uighur: China Jamin Kebebasan Beragama, Laporan dan Dokumen Membantah

Rachmat Fahzry, Jurnalis
Selasa 24 Desember 2019 07:30 WIB
Warga Xinjiang menjalani pendidikan di ruang kelas di tempat yang disebut China kamp pelatihan. (Foto/BBC)
Share :

China mengundang otoritas meyakinkan otoritas agama dan jurnalis Indonesia bahwa kamp pendidikan ulang di wilayah Xinjiang adalah upaya mereka untuk menyediakan pelatihan kerja dan memerangi ekstremisme.

WSJ dalam laporannya menyebutkan puluhan tokoh agama Indonesia dibawa ke Xinjiang untuk mengunjungi fasilitas kamp penahanan atau pendidikan ulang versi China. Tur diikuti wartawan dan akademisi.

"Ada masalah dengan ekstremisme di Xinjiang dan mereka [China] menanganinya," kata Masduki Baidlowi, seorang tokoh dari Nahdlatul Ulama, yang juga politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga mengunjungi kawasan itu dalam tur. “Mereka memberikan solusi, pelatihan keterampilan,” lanjut Masduki yang kini menjabat Staf khusus Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Ketua PBNU Said Aqil Siroj, tulis WSJ menanggapi masalah Uighur di Xinjiang dengan meminta warga khususnya Muslim tidak mudah percaya pada laporan media dan televisi dengan situasi Xinjiang. Hal itu disampaikannya dalam sebuah kalimat pengantar untuk buku yang diterbitkan NU cabang China.

Dalam laporan WJ itu juga menyebutkan sejumlah tokoh agama dan otoritas serupa dari berbagai negara, khususnya mayoritas berpenduduk Muslim juga tutur diundang. Namun ada sejumlah negara yang menolak untuk mengujungi kamp tersebut. 

Berita Palsu 

Pemerintah wilayah XInjiang, China mengatakan bahwa laporan New York Times yang memuat 400 halaman dokumen internal yang bocor tentang penawanan Muslim Uighur adalah berita palsu yang "dibuat ".

Dokumen-dokumen itu juga menunjukkan bahwa kamp-kamp penahanan di Xinjiang diperluas dengan cepat pada 2016, ketika Chen Quanguo ditunjuk sebagai ketua Partai Komunis di wilayah tersebut. Beijing tidak pernah memberikan angka resmi mengenai jumlah orang yang ditahan di sana.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters, pada Senin, pemerintah Xinjiang menggambarkan laporan New York Times sebagai "berita palsu" bahwa "sepenuhnya merupakan kolusi dan pemalsuan dari pasukan musuh domestik dan asing". Namun, tidak dijelaskan mengenai bagian mana dari laporan tersebut yang telah dipalsukan. 

Seorang pejabat senior China mengatakan bahwa semua orang yang dikirim ke pusat penahanan di wilayah Xinjiang sekarang telah dibebaskan.

Ketua pemerintah daerah, Shohrat Zakir mengatakan kepada wartawan bahwa mereka yang ditahan di tempat yang dikatakan China adalah "kamp pendidikan ulang" kini telah "lulus".

Zakir mengatakan kepada wartawan di Beijing pada Senin 9 Desember 2019 bahwa semua orang di pusat penahanan telah menyelesaikan kursus mereka dengan bantuan pemerintah. Bantuan begunan untuk "mewujudkan pekerjaan yang stabil [dan] meningkatkan kualitas hidup mereka".

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya