Dia menyatakan susur sungai tidak boleh dilakukan di saat musim hujan sehingga pelaksanaan harus dilakukan di musim kemarau. Jika pun ada yang ingin melakukan di musim hujan, harus dilakukan oleh kalangan profesional.
Selain itu harus dilengkapi dengan berbagai peralatan seperti helm dan pelampung, serta berbagai alat lapangan lainnya. “Meskipun itu di sungai kecil, tetap harus sesuai prosedur, karena sungai kecil itu justru malah lebih berbahaya, aliran air bisa tiba-tiba besar,” katanya.
Alumnus Institute fuer Wasserwirtschaft, Hydarulik und Rural Engineering (Jurusan Manajemen Sumber Daya Air, Hidraulika dan Irigasi) University of Karlsruhe, Jerman itu meyakini pengetahuan soal susur sungai ini tidak diketahui oleh penyelenggara kegiatan di SMPN 1 Turi.
Faktanya anak-anak justru diajak masuk sungai di saat musim hujan dan tanpa perlengkapan yang memadai. “Kalau niatnya mau kerja bakti harus ada orang yang di atas untuk memantau, waduh, musim hujan ngapain juga, musim hujan kan sampah juga sudah tidak ada,” ujarnya.
Dia meminta kepada berbagai pihak terutama dinas terkait agar membuat standar operasional prosedur (SOP) kegiatan lapangan bagi para pelajar, bahwa susur sungai tidak boleh dilakukan pelajar.
(Edi Hidayat)