Selain dampak ekonomi terhadap marbot dan mubalig, dampak spiritual juga dirasakan masyarakat akibat pelarangan salat di masjid. Bagi mereka, tarawih adalah ibadah yang menjadi pembeda bulan Ramadan dengan bulan-bulan lainnya.
Namun, jauh dari masjid bukan halangan kita tak bisa ikut memakmurkan masjid. Salah satu dokter dan juga influencer di media sosial, dr Andi Khomeini Takdir menjelaskan bahwa masyarakat bisa memakmurkan masjid, namun tetap bisa mencegah penularan Virus Corona.
“Lagi jarang ke masjid. Tapi rindu. Ini yang bisa kita lakukan, donasi untuk bangun masjid. Semoga pahala wakafnya ngalir. Lalu, sumbang dana perawatan masjid. Kirim makanan buat marbot masjid. Datang sebentar ke masjid buat ngebersihin. Tetap pake masker,” jelas Andi dalam akun Twitternya @dr_koko28.
Cara lain untuk tetap bisa melakukan salat tarawih dilakukan salah satu warga Bojonggede, Bogor, Edy Supriyanto. Ia mengaku mengubah salah satu ruang di rumahnya menjadi musalah yang akan digunakan sebagai sarana salat tarawih bersama istri dan dua anaknya.
Sementara, dari Tanah Suci Makkah, seorang Muzain bernama Ali Mulla menangis ketika mendapat kabar dari Kerajaan Arab Saudi memperpanjang penangguhan salat berjemaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama bulan Ramadan tahun ini untuk membendung penyebaran virus corona. Iktikaf atau berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah juga tidak diperbolehkan.
Keputusan ini diumumkan pihak pengelola kedua masjid itu melalui Twitter, dengan mengutip Presiden Jenderal Sheikh Dr. Abdulrahman bin Abdulaziz Al-Sudais.
Bagaimanapun, tidak semua orang menerima keputusan ini dengan lapang dada. "Hati kami menangis," kata Ali Mulla, muazin di Masjidil Haram.
"Kami terbiasa melihat masjid suci penuh orang selama siang, malam, setiap saat. Saya merasa sakit di dalam," tambahnya, kepada kantor berita AFP.